Oleh: An-Najmi Fikri Ramadhan
Jika pendidikan diartikan sebagai proses penanaman nilai-nilai, maka bisa kita asumsikan bahwa pendidikan tidak hanya terjadi di sekolah. Pendidikan bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, tak terbatas hanya ada di ruang-ruang kelas seperti di sekolah.
Sebelum mengenal lingkungan sekolah, anak telah mendapatkan pendidikan pertamanya sejak di rumah bersama orang tuanya. Pendidikan di rumah menjadi tiang atau pondasi tempat membentuk kepribadian, moral agama dan karakter anak melalui orang tua.
Sayangnya, banyak orang tua mengabaikan memberikan pendidikan bagi anaknya karena berbabagai faktor. Orang tua terlalu sibuk, perceraian, ekonomi yang sulit membuat kesadaran orang tua terhadap pendidikan untuk anak sering dilupakan.
Dampak yang terjadi, ketika di sekolah perkembangan belajar anak menjadi tidak optimal. Salah satu penyebab utamanya adalah kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua bagi pendidikan anaknya.(Ilmiyah & Priyono. 2024)
Tantangan Pendidikan di Era Digital
Munculnya kecanggihan teknologi digital sekarang, mengubah ekosistem pendidikan secara menyeluruh. Baik dari segi metode dan pendekatan, teknologi digital telah menjadikan proses belajar tidak lagi terbatas pada ruang kelas.
Di suatu sisi, teknologi digital memberikan kemudahan dan mengakses informasi secepat dalam membantu proses pembelajaran.
Di sisi lain, perubahan ekosistem pendidikan dengan munculnya teknologi digital perlu disikapi dengan bijak.
Kemudahan yang ditawarkan internet dalam mengakses informasi baik video maupun gambar secara instan membuat minat literasi membaca anak cenderung berkurang.
Hal ini, sebagai akibat dari informasi yang membeludak di internet yang kemudian memengaruhi kemampuan menyaring informasi secara kritis dan membaca teks panjang. (Suherman, 2020)
Dampak ini terlihat nyata ketika kerap kita menemukan penelitian siswa SMP di Indonesia yang ternyata belum bisa membaca. Padahal literasi membaca merupakan kemampuan dasar yang dimiliki manusia dalam menjalani kehidupan.
Kurangnya kesadaran orang tua lagi-lagi menjadi salah satu kenapa masalah ini terjadi berawal dari rumah.
Tidak semua orang tua menyadari bahwa kecanduan internet yang berlebihan terutama di media sosial, membawa pengaruh negatif terhadap menurunnya minat belajar dan melemahnya kemampuan sosial anak.
Kewajiban Pendampingan Orang Tua dalam Mendidik Anak
Pandangan yang amat keliru sekarang, banyak orang tua berpikir tugas mendidik anak adalah tanggung jawab sekolah dan para guru.
Anggapan ini akan membuat orang tua cenderung pasif dalam mendampingi proses pendidikan di rumah karena mereka menganggap peran orang tua hanya sebatas memberikan kebutuhan materi dan fasilitas untuk anaknya bersekolah.
Padahal, memberikan pendidikan moral dan pembentukan karakter terhadap anak lebih efektif dilakukan di rumah. Karena tidak semua pendidikan formal di sekolah mencukupi terhadap penanaman nilai-nilai moral terutama keteladanan yang seharusnya didapatkan lebih pada orang tua.
Keteladanan Luqmanul Hakim dalam al-Qur’an surah Luqman ayat 12-19 merupakan contoh peran orang tua dalam pendampingan pendidikan anak.
Luqman sebagai orang tua tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan materi anak, tetapi juga berperan membimbing spritual, moral dan sosial bagi anak.
Melalui pendekatan hikmah dan keteladanan yang dilakukan Luqmanul Hakim mengajarkan anaknya tentang pribadi akhlaq yang mulia dan kebijaksanaan.
Tugas orang tua berkewajiban mendidik anaknya sejak dini dari rumah dalam menanamkan moral dan etika. Kemudian, ketika tugas mendidik itu beralih ke sekolah maka tugas orang tua adalah mendampingi dan mengawasi anaknya di luar sekolah.
Pendampingan Orang Tua Kunci Pendidikan Bermutu
Di momen Hardiknas tahun 2025, Presiden Prabowo melalui Kemdikdasmen meluncurkan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC). Program ini merupakan aktualisasi gerak cepat Presiden Prabowo untuk menghadirkan pendidikan yang bermutu dan memadai untuk anak bangsa.
Program gerak cepat melalui Kemdikdasmen ini telah berhasil beberapa dilakukan. Yaitu meliputi; perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, usaha digitalisasi pembelanjaran dan program kesejahteraan guru honorer yang belum bersetifikasi maupun bantuan pendidikan guru-guru untuk meneruskan pendidikan profesinya.
Namun pendidikan bermutu hanya akan menjadi angan-angan belaka tanpa didukung dengan kolaborasi oleh semua elemen. Salah satu elemen kunci sukses mewujudkan pendidikan bermutu adalah peran orang tua.
Fungsi pendampingan dan pengawasan orang tua terhadap anak akan membantu memonitoring perkembangan belajar anak ketika tidak berada di sekolah.
Karena pendidikan merupakan proses yang berkesinambungan. Di sekolah memang anak belajar tentang teori dan kemampuan akademiknya.
Namun, pendidikan karakter maupun penguatan nilai-nilai moral membutuhkan pengawasan terhadap pergaulan dan penggunaan teknologi yang justru sering digunakan di luar sekolah.
Peran orang tua dalam mendampingi anaknya belajar terhalang dengan kesibukan pekerjaan. Namun persoalan ini sebenarnya bukan menjadi penghalang ketika mencoba inovasi-inovasi baru sebagai bentuk pendampingan terhadap anak.
Salah satunya Google Family Link yang tersambung pada akun-akun di gadget anak. Jadi ini bisa menjadi partner yang baik dalam pemantauan anak menggunakan internet.
Fitur-fiturnya akan membantu orang tua termasuk membatasi waktu menggunakan internet, adanya permission orang tua jika ingin mendownload aplikasi tertentu hingga memfilter tontonan video yang anak tonton.
Maka dari itu, orang tua perlu terus belajar metode dan pendekatan dalam mendampingi anak belajar.
Kecanggihan teknologi digital sekarang, seharusnya memudahkan dalam mengatasi persoalan-persoalan dampak negatif terhadap penggunaan internet yang berlebihan.
Fungsi pendampingan ini wajib dilakukan hingga anak mampu mandiri dan dewasa menggunakan internet.
Penulis merupakan Dosen Universitas Muhammadiyah Bengkulu
