Satujuang, Seluma- Ambruknya Jembatan Matan di Kabupaten Seluma pada Senin (6/4/26) menjadi sorotan tajam publik, dinilai sebagai simbol kegagalan perencanaan pembangunan infrastruktur.
Jembatan yang baru seumur jagung ini memicu pertanyaan besar terkait tanggung jawab atas lumpuhnya akses ekonomi masyarakat.
Sebagai urat nadi penghubung Kecamatan Ilir Talo menuju pusat Kota Seluma, jembatan tersebut kini tak lagi bisa dilalui.
Penutupan total akses berdampak langsung pada aktivitas warga, terutama distribusi hasil pertanian dan galian C yang menjadi tulang punggung perekonomian setempat, Rabu (8/4/26).
Kondisi jembatan yang ambruk disebut-sebut tidak memungkinkan untuk sekadar diperbaiki karena kerusakan diduga terjadi hingga ke bagian pondasi.
Sejumlah pihak menilai pondasi tidak dibangun sesuai spesifikasi teknis, bahkan muncul dugaan praktik mark-up anggaran dalam proyek senilai Rp16 miliar tersebut.
Temuan di lapangan menunjukkan tidak adanya rangka besi pada beton lantai jembatan, serta timbunan di bawah lantai yang hanya menggunakan pasir di sekitar lokasi.
Di tengah derasnya kritik, Asisten I Setda Provinsi Bengkulu, Kharil Anwar, memberikan klarifikasi pada Selasa (7/4).
“Kerusakan tidak terjadi pada struktur utama. Jembatan masih kokoh, tetapi akibat gerusan yang cukup besar, kondisi ini harus segera ditangani,” ujar Kharil Anwar, dikutip dari Rilis Media Center Provinsi Bengkulu.
Namun, pernyataan tersebut justru menimbulkan polemik baru di tengah masyarakat karena fakta di lapangan memperlihatkan kerusakan yang dinilai lebih dari sekadar dampak gerusan air.
Kerusakan yang terjadi mengarah pada kegagalan konstruksi secara menyeluruh, bukan hanya gerusan air.
Hingga kini, belum ada kepastian langkah konkret dari pemerintah untuk mengatasi dampak ekonomi yang dirasakan warga, terutama bagi para petani dan pelaku usaha galian C yang kini terisolasi.
Kegagalan proyek Jembatan Matan diduga berakar dari lemahnya analisis awal yang dilakukan pemerintah sebelum pembangunan.
Aspek krusial seperti sejarah bencana sebelumnya, kekuatan arus sungai, karakteristik tanah, serta potensi gerusan air tampaknya tidak dikaji secara mendalam.
Selain itu, pengawasan terhadap kualitas material dan pelaksanaan teknis di lapangan juga terkesan diabaikan, sehingga proyek bernilai miliaran rupiah ini berujung pada kerusakan dalam waktu singkat.
Jika hanya diperbaiki, kerusakan akan timbul kembali dalam waktu yang relatif singkat. (da)
