Pendapatan BLUD Meroket, Ironi Pelayanan RSUD Tais Biarkan Pendonor Darah Puluhan Kali Tanpa Apresiasi

Seluma, Satujuang.com – Peningkatan drastis jumlah pasien dan pendapatan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) ternyata tidak berbanding lurus dengan mutu pelayanan RSUD Tais, khususnya bagi para pahlawan kemanusiaan.

Fasilitas kesehatan pelat merah kebanggaan Pemerintah Kabupaten Seluma ini kini menuai sorotan tajam dari publik dan masyarakat.

Buruknya kualitas pelayanan RSUD Tais terbongkar setelah seorang pendonor darah sukarela angkat bicara dan meluapkan kekecewaannya.

Pria yang enggan identitasnya dipublikasikan tersebut mengaku telah menyumbangkan darahnya hingga puluhan kali demi menyelamatkan nyawa pasien kritis.

Ironisnya, rentetan pengorbanan rutin tersebut sama sekali tidak pernah mendapat apresiasi atau sekadar pelayanan standar pasca-donor dari pihak rumah sakit.

“Sudah puluhan kali saya donor disana belum ada menerima service dari pihak rumah sakit,” ungkap sang pendonor dengan nada kecewa kepada awak media, Kamis (22/10/26).

Keluhan ini memantik tanda tanya besar terkait profesionalisme operasional di Unit Transfusi Darah Rumah Sakit (UTDRS) setempat.

Perhatian sederhana seperti asupan nutrisi berupa makanan ringan dan minuman vitamin pasca-donor seharusnya menjadi standar operasional baku di setiap fasilitas kesehatan.

Langkah pemulihan gizi pasca-pengambilan darah sangat vital untuk mencegah pendonor mengalami kelelahan atau anemia mendadak.

Namun, pelayanan RSUD Tais dalam aspek fundamental kesehatan dan kemanusiaan ini justru terkesan nihil.

Publik kini secara kritis mempertanyakan ke mana mengalirnya alokasi anggaran rumah sakit yang diklaim terus meraup surplus.

Padahal, status BLUD seharusnya memberikan keleluasaan penuh bagi manajemen untuk mengelola pendapatan secara mandiri demi peningkatan mutu layanan.

Seorang sumber terpercaya menyoroti adanya kejanggalan pengelolaan dana operasional unit transfusi darah tersebut.

“Harapan kita service pendonor, itu katanya pendapatan, jangankan penghargaan service tidak direalisasikan, kemana anggarannya?,” kejar sumber tersebut mempertanyakan transparansi.

Sumber ini juga membongkar rekam jejak kurang simpatik terkait pelayanan RSUD Tais pada tahun-tahun sebelumnya.

Menurutnya, pihak manajemen dan UTDRS terkesan hanya bersikap reaktif ketika dikritik keras oleh publik di media sosial.

Saat persoalan serupa mencuat di masa lalu, pihak UTDRS sempat memamerkan dokumentasi penyerahan makanan kepada pendonor guna meredam sentimen negatif.

Sayangnya, aksi pencitraan itu diklaim hanya bertahan dalam hitungan hari.

Setelah isu mereda, beban penyediaan nutrisi dan pelayanan bagi pendonor kembali dilemparkan secara sepihak kepada keluarga pasien yang sedang tertimpa kesusahan.

Keengganan manajemen memfasilitasi pendonor ini dinilai menjadi preseden buruk bagi sistem kesehatan Kabupaten Seluma.

Jika minat masyarakat untuk mendonor anjlok akibat pelayanan yang nihil, rumah sakit berisiko tinggi mengalami kelangkaan stok darah saat kondisi gawat darurat.

Ketersediaan kantong darah sangat krusial untuk menangani kasus darurat, seperti pendarahan ibu melahirkan, korban kecelakaan lalu lintas, hingga pasien kritis yang membutuhkan transfusi cepat.

Dikonfirmasi terkait karut-marutnya standar layanan ini, Direktur RSUD Tais tidak menampik fakta pahit tersebut di lapangan.

Ia mengakui secara terbuka adanya celah besar dalam tata kelola fasilitas kesehatan yang baru seumur jagung ia pimpin.

“Iya, benar sekali tapi saya kan baru disini sehingga masih banyak yang harus dibenahi termasuk layanan unit transfusi darah,” jelas Direktur RSUD Tais.

Pihaknya berjanji akan menjadikan tamparan keras dari para pendonor ini sebagai pijakan evaluasi menyeluruh.

“Dalam hal ini saya juga mengucapkan Terima kasih atas masukan sebagai dasar perbaikan di tahun mendatang,” pungkasnya. (da)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *