Bocah Gizi Buruk di Bekasi Meninggal Dunia, Keluarga Malah Terlilit Hutang Rumah Sakit

Satujuang, Bekasi – Seorang bocah perempuan, Putri Ayudia Inara (8), warga Desa Satria Mekar, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, meninggal dunia pada Sabtu (9/8) setelah sempat mendapat perawatan kurang dari satu hari di RS Ananda, Babelan.

Sejak balita, Putri berjuang melawan gizi buruk, tuberkulosis paru, dan sejumlah komplikasi penyakit lain.

Duka keluarga kian bertambah karena selain kehilangan buah hati, mereka juga di bebani tagihan rumah sakit sebesar Rp30 juta. Sang ayah, Rijal Firdaus, seorang pekerja swasta dengan penghasilan setara UMR Jakarta dan enam orang tanggungan, hanya mampu melunasi Rp10 juta hasil pinjaman dari rekan kerja.

Akibatnya, jenazah Putri sempat tertahan di rumah sakit sebelum akhirnya di perbolehkan di bawa pulang.

Harapan keluarga agar biaya di tanggung BPJS pupus setelah Rukmana, Ketua Umum Forum Penulis dan Wartawan Indonesia (FPWI), mengonfirmasi langsung ke Kepala Cabang BPJS Kesehatan Bekasi.

Pihak BPJS menyatakan tidak bisa menanggung biaya lantaran status kepesertaan Putri sudah nonaktif akibat tunggakan iuran.

Penjelasan itu di pertegas oleh petugas BPJS di rumah sakit.

“Aturannya jelas, Pasien yang tidak menunjukkan kartu aktif hingga pulang dari rumah sakit tidak bisa di jamin biayanya,” kata Ade, staf BPJS, melalui sambungan WhatsApp, Senin (15/9).

Sikap tersebut menuai kritik. Menurut Rukmana, seharusnya peserta BPJS Mandiri yang tidak sanggup membayar iuran dapat di alihkan ke program Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang biayanya di tanggung negara. Namun mekanisme itu tidak di jalankan dalam kasus Putri.

“BPJS seolah lupa pada fungsi sosialnya. Jika rakyat kecil sakit lalu di tolak hanya karena alasan administrasi, di mana letak kehadiran negara?” ujarnya, Jumat (12/9/25).

Kini, keluarga Rijal masih di bayangi sisa tagihan Rp20 juta. Pihak rumah sakit bahkan mengancam menyerahkan urusan penagihan ke pihak ketiga jika pembayaran tak segera di selesaikan.

Bagi keluarga miskin, jumlah itu bukan sekadar angka, tetapi luka baru setelah kehilangan anak. (Hera)

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *