Satujuang, Bengkulu- Target pembangunan rumah korban gempa dalam jangka waktu sebulan yang sempat dilontarkan Gubernur Bengkulu Helmi Hasan nampaknya meleset.
Realitas di perumahan yang terletak di kelurahan Betungan Kota Bengkulu tersebut, ternyata baru 4 unit rumah yang rampung dari total 7 rusak berat sejak pengerjaan dimulai 26 Mei 2025.
Dalam kunjungannya hari ini seperti dilansir dari Humas Pemprov, Helmi menyoroti adanya ketidaksesuaian teknis dalam penyaluran bantuan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bengkulu terhadap rumah-rumah yang mengalami kerusakan ringan dan sedang.
“Harusnya rumah yang rusak sedang dan ringan itu uangnya saja yang dikasih. Nanti pertanggungjawabannya seperti apa? Pemilik rumah cukup menunjukkan bukti pembelian, seperti beli semen berapa, beli seng berapa,” sampai Helmi, Minggu (6/7/25).
Namun, kata dia, BPBD Kota malah memilih untuk melakukan proses lelang dalam pengadaan barang. Padahal menurutnya, proses ini justru memperlambat penanganan.
“Kalau lelang, tentu lama. Sudahlah, kita ingin uang itu betul-betul bermanfaat maksimal. Supaya kerjanya cepat dan tidak saling tunggu. Ini kan masih banyak rumah yang belum tersentuh,” katanya.
Selain itu, ia juga meminta masyarakat korban gempa untuk lebih proaktif menyampaikan perkembangan pembangunan rumah mereka secara langsung kepada dirinya.
Hal ini dilakukan agar proses pemulihan berjalan cepat dan tepat sasaran.
“Kalau ada masalah di lapangan laporkan langsung ke saya, supaya cepat kita atasi,” pungkasnya.
Saat ini, masih ada setidaknya tiga rumah rusak berat belum selesai, plus sekitar 40 rumah rusak ringan hingga sedang yang belum direhabilitasi di lokasi tersebut.
Selain itu, perkara yang sempat diperiksa oleh pihak Polda Bengkulu terkait temuan pada bangunan rumah di perumahan tersebut hingga kini bak hilang ditelan bumi.
Sejumlah rumah di perumahan yang dibangun developer tersebut ketahuan tidak memiliki pondasi, sehingga sangat wajar jika mudah rusak apalagi ditambah Bengkulu merupakan daerah rawan gempa. (MC/Red)







Komentar