Tiga Bocah Terluka Parah, Terselamatkan Berkat Adanya Jadwal Kapal Penyeberangan

Perkiraan Waktu Baca: 2 menit

Satujuang, Bengkulu – Pulau Enggano kembali menyuguhkan potret getir keterisolasian. Di tengah hujan deras yang mengguyur Desa Malakoni, pada Kamis (5/6/25), tiga bocah terluka parah akibat kecelakaan lalu lintas.

Ketiganya, Rapi Andra Wijaya (10), Axsel Darelio (11), dan Alpino (12), ditabrak sebuah mobil saat sedang berboncengan mengendarai sepeda motor. Rekaman CCTV memperlihatkan sebuah mobil keluar dari pekarangan rumah dan menghantam motor yang dikendarai ketiga bocah malang itu.

Warga segera membawa mereka ke Puskesmas Enggano, tapi keterbatasan peralatan medis membuat penanganan lanjutan tak bisa dilakukan di pulau itu.

“Saat itu hanya ada harapan kapal harus datang. Kalau tidak, bagaimana nasib anak-anak ini di Enggano yang minim peralatan medis,” ujar warga yang mengetahui kejadian.

Selama tiga bulan terakhir, Enggano nyaris terputus dari dunia luar. Pendangkalan pelabuhan dan minimnya transportasi membuat sekitar 4.000 jiwa di pulau itu hidup seperti terperangkap. Akses kebutuhan makanan, pendidikan, dan kesehatan lumpuh.

Beruntungnya, pada Sabtu (7/6), Kapal Motor Penumpang (KMP) Pulo Tello milik PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) membuka pelayaran menuju Bengkulu.

Dari titik lego jangkar di tengah laut, penumpang termasuk enam pasien sakit diangkut ke kapal kecil menuju daratan. Di antara mereka, tiga bocah korban kecelakaan itu.

“Kami gratiskan tiket untuk 18 orang, terdiri dari pasien, keluarga pendamping, dan tenaga medis,” kata Radmiadi, Kepala Supervisi ASDP Bengkulu ketika itu.

Setibanya di Pelabuhan Pulau Baai, tujuh ambulans sudah siaga, empat dari Pemkot Bengkulu dan tiga dari Kantor Kesehatan Pelabuhan. Ketiga bocah langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapat penanganan medis lanjutan.

Bagi banyak warga Enggano, hari itu bukan sekadar kedatangan kapal. Hari itu adalah hari ketika hidup bisa diselamatkan di tengah keterbatasan.

Isolasi yang berkepanjangan bahkan mendorong masyarakat Enggano menggelar aksi unjuk rasa di Simpang Lima, Kota Bengkulu. Dalam aksi itu, mereka menyuarakan jeritan yang selama ini tak terdengar—hingga akhirnya dituliskan dalam sebuah surat terbuka untuk Presiden Prabowo Subianto.

“Kami tidak butuh janji, kami butuh jalan pulang. Kami ingin anak-anak kami bisa sekolah, warga kami bisa berobat, dan orang-orang kami bisa hidup,” ucap seorang orator aksi dengan suara lantang.

Hingga saat ini warga Enggano hanya bisa berharap, semoga diberikan banyak opsi hingga aktivitas transportasi ke pulau terluar tempat mereka tinggal tersebut kembali normal seperti dulu lagi. (Red)

Komentar