Satujuang, Jakarta – Raut kecewa terpancar jelas di wajah seorang penyandang disabilitas, Muhammad Husni (25), saat ia menelusuri stand-stand perusahaan di Jobfair GOR Tanjung Duren, Jakarta Barat, Rabu (4/6/25).
4 tahun berlalu sejak Husni lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan Luar Biasa (SLB), namun upayanya mencari pekerjaan belum membuahkan hasil.
Bersertifikat ijazah SLB, Husni rutin mengirimkan lamaran kerja ke berbagai perusahaan.
Namun, ia menghadapi rangkaian penolakan, salah satunya dari sebuah perusahaan kopi ternama.
“Saya sudah mencoba berkali-kali di perusahaan Kopi Jago, tapi selalu ditolak,” ujarnya.
Penolakan itu kian memperburuk kecewa dan frustrasi Husni. Ia mengaku kerap mendapat perlakuan diskriminatif dari pihak Human Resources (HR).
“Kadang wawancara hanya sebatas formalitas. Kalau sudah tahu saya penyandang disabilitas, peluang itu langsung tertutup. Saya sempat ditanya, ‘Tunggu 1 bulan lagi,’ padahal faktanya saya tetap tidak diterima,” tutur Husni dengan nada kesal.
Menurut Husni, proses seleksi kerja di Indonesia masih sarat bias terhadap penyandang disabilitas.
“Sistem rekrutmen sering kali menilai kami sebelah mata,” katanya.
Meskipun demikian, Husni tidak rela menyerah. Ia mengaku siap bekerja di berbagai bidang, terutama industri otomotif dan perhotelan.
“Saya sebenarnya tertarik meniti karier di bidang otomotif. Kalau masih ada sektor ritel yang membuka kesempatan, saya juga bersyukur,” ujarnya.
Di sela-sela kegiatannya bertemu puluhan perusahaan, Husni terus memanjatkan doa agar pemerintah dan pelaku usaha lebih peka terhadap keberadaan penyandang disabilitas.
“Saya berharap ada perusahaan yang membuka hati dan menerima saya apa adanya,” katanya menutup harapannya. (AHK)











