Satujuang, Seluma- Seorang siswa kelas III Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Semidang Alas, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, berinisial AN (10), dilaporkan takut masuk sekolah dan sudah hampir dua bulan tidak mau kembali ke bangku pendidikan.
Kondisi ini diduga dipicu pengalaman psikologis yang dialaminya saat mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Orang tua AN mengonfirmasi bahwa anaknya mulai enggan bersekolah sejak Februari 2026.
Mereka menduga hal ini terjadi setelah AN mengikuti pembelajaran di ruang khusus (inklusif) karena dinilai belum mampu membaca dan menulis.
“Anak saya tidak mau masuk sekolah lagi setelah mengikuti pembelajaran di ruangan khusus (inklusif) karena anak saya katanya belum bisa baca tulis,” ujar Ibu AN, Jumat (10/4/26).
Secara fisik, Ibu AN menuturkan bahwa anaknya tidak mengalami kekerasan.
Namun, ia meyakini adanya tekanan psikologis yang dialami AN selama di sekolah.
Tiga hari sebelum anaknya benar-benar menolak masuk sekolah, Ibu AN sempat dipanggil pihak sekolah.
Dalam pertemuan itu, Kepala Sekolah disebut menyampaikan sejumlah hal terkait perilaku dan kondisi anaknya.
“Waktu itu rasanya saya mau nangis om, karena seolah-olah anak saya memang dianggap biang kerusuhan,” ungkap Ibu AN, mengingat anaknya baru kembali setelah libur dua minggu karena jari tangan luka.
Hingga kini, pihak keluarga mengaku kesulitan membujuk AN agar kembali bersekolah.
“Sekarang kami bingung, sebagai orang tua kami berharap anak kami dapat melanjutkan sekolah lagi, kami sudah berusaha membujuk, tapi anak kami tetap tidak mau masuk sekolah,” sambung Ibu AN.
Sementara itu, Kepala Sekolah tempat AN bersekolah membantah adanya kekerasan sebagaimana yang disampaikan orang tua siswa.
Ia membenarkan bahwa AN sempat mengikuti pembelajaran khusus karena belum menguasai kemampuan dasar membaca dan menulis.
“Jadi menurut saya kalau kata trauma itu sudah berlebihan pak, apalagi sampai memukul,” tegas Kepala Sekolah.
Kepala Sekolah juga menjelaskan bahwa selama di kelas, AN kerap dikeluhkan oleh wali kelas karena dianggap mengganggu siswa lain.
Bahkan, beberapa orang tua murid pernah melapor karena anak mereka mengalami tindakan seperti dipukul atau ditendang oleh AN.
“Beruntung waktu itu kami masih bisa meredam, bahkan anak itu sudah berulangkali membuat anak-anak yang lain trauma,” kata Kepala Sekolah, menambahkan bahwa sempat terjadi adu argumen dengan orang tua AN.
Lebih lanjut, Kepala Sekolah mengakui sempat menegur AN, namun menurutnya hal itu dilakukan demi kebaikan siswa tersebut.
“Saya akui memang ada saya menegur, maaf ngomong waktu itu ada tai matanya (belek), terus saya tanya kenapa, katanya tidak mandi karena tidak ada air karena waktu itu musim panas,” terang Kepala Sekolah, yang juga menyebut telah meminta AN untuk mandi agar segar.
Kasus ini menyoroti pentingnya pendekatan pendidikan yang lebih sensitif terhadap kondisi psikologis anak, khususnya dalam proses pembelajaran inklusif.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai langkah lanjutan untuk menyelesaikan persoalan tersebut. (da)
