Potret Nyata Pendidikan Bengkulu, Gaji Guru Honorer SMA 12 Kaur Hasil Urunan Wali Murid

Perkiraan Waktu Baca: 2 menit

Satujuang, Kaur- Anggota DPRD Provinsi Bengkulu, Usin Abdisyah Putra Sembiring, menemukan fakta miris terkait nasib 16 guru honorer di SMA Negeri 12 Kabupaten Kaur. Mereka hanya menerima bayaran Rp 12.000 per jam.

Penemuan ini terungkap saat kunjungan DPRD ke sekolah tersebut. Usin Abdisyah Putra Sembiring menjelaskan bahwa ada 16 tenaga pendidik yang digaji sangat minim.

“Uang gaji para guru honorer sekolah itu didapat dari urunan para wali murid,” ungkapnya, Jumat (31/10/25).

Kunjungan DPRD ke sekolah tersebut bermula dari desakan para siswa. Mereka melakukan aksi di media sosial, meminta gubernur dan presiden agar gedung sekolah dibangun.

“Awalnya kami merespon aksi para siswa itu,” sambung Usin.

Sekolah ini berlokasi di Desa Bukit Indah, Kecamatan Nasal, Kabupaten Kaur. Akses jalan tanah kuning yang rusak berat menyulitkan jangkauan ke sana, sehingga kegiatan belajar mengajar masih menumpang.

Total siswa di SMAN 12 Kaur mencapai 130 orang yang terbagi dalam tiga tingkatan kelas. “Sekolah mereka masih menumpang dengan SMP Negeri 22 Nasal,” ujar Usin.

Sekolah dipimpin seorang Plt kepala sekolah yang juga guru tetap di SMK Negeri 4 Kaur. Usin mengungkapkan, total 22 guru mengajar di sana, termasuk ASN, PPPK, paruh waktu, dan honorer.

DPRD Provinsi Bengkulu berkomitmen mengawal usulan pembangunan Unit Sekolah Baru (USB) bagi SMAN 12 Kaur. “Usulan USB sudah disampaikan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” kata Usin.

Usin menambahkan, DPRD akan mengawal proses ini agar SMAN 12 Kaur mendapat gedung baru. “Kami akan kawal agar SMA ini mendapat ruang baru dan permanen,” tegasnya.

Apabila sekolah memiliki gedung baru, sekitar sembilan desa terdekat akan merasakan manfaatnya. “Ada sembilan desa anak-anaknya bisa sekolah di SMA Negeri 12 kalau gedung barunya tersedia,” ucapnya.

DPRD juga berkomitmen membantu proses hibah tanah dan pematangan lahan. Dalam kunjungan tersebut, mereka menyerahkan seperangkat komputer dan printer untuk menunjang administrasi sekolah.

Usin mengungkapkan, sebelumnya para guru menggunakan monitor komputer lawas. “Selama ini para guru menggunakan monitor komputer lawas dan CPU rusak yang mereka rakit sendiri,” tutup Usin. (Rls)