Matinya Tukang Kritik

Perkiraan Waktu Baca: 2 menit

Oleh: Nyanyian Sunyi & Kedamaian

Bayangkan dunia tanpa tukang kritik, sunyi.

Maaf, bayangkan bila Tuhan tidak mendesain iblis mengkritik penciptaan adam. Mungkin tak ada hikmah bahwa sombong itu penyakit paling dibenci Tuhan.

Manusia itu dilahirkan dengan proses berpikir. Berpikir itu proses kritik di kepala melibatkan hati.

Hati dan otak sering saling kritik, lalu memutuskan sesuatu.

Dari proses kritik lahir kebaikan-kebaikan, kebajikan-kebajikan. Kritik adalah simbol hidupnya manusia.

Dalam ilmu-ilmu sosial dan filsafat tak diperkenankan seseorang nyaman pada kondisi apapun karena akan menghasilkan keburukan.

Misal, sombong, jumawa, sok keren, cak kemacakan, dan lain-lain.

Dalam konteks dunia saat ini maka ada eksekutif, legislatif, sebagai wadah berjalannya proses kritik-otokritik untuk melahirkan kebijakan yg baik. Idealnya.

Ada ribuan ekspresi kritik bahkan diamnya seseorang pada sebuah kebijakan itu juga kritik. Aksi meludah ke kantor pemerintah oleh mahasiswa itu kritik.

Aksi-kasi mahasiswa mengkritik itu penyelamat. Apa jadinya kita tanpa kritik mahasiswa? Maka kezoliman merajalela.

Apa jadinya bila kritik netizen di medsos mati? Maka penguasa akan lalim. Tak boleh ada penguasa merasa nyaman, karena nyaman akan berujung keburukan.

Kritik Pahit

Bagi penguasa pikun, kritik itu menyakitkan. Bukan perbaikan dilakukan perlawanan dibangun, membentuk pasukan buzzer, mengumbar aib individu si pengkritik, dan serangan lainnya untuk membungkam.

Dunia begitu sepi tanpa pengkritik, media sosial hanya diramaikan dengan pornografi saja. Surat kabar akan penuh dengan puja-puji saja. Masyarakat seperti robot. Monolog tak ada dialog.

Tanpa kritik, warung-warung kopi akan sunyi. Grup-grup WA kering. Pelajar, mahasiswa jiwanya kosong. Perusahaan, UMKM, semuanya akan mati.

Saat tukang kritik mati, maka tak ada kehidupan…..