Kronologi Kejadian Berdarah di Lokasi PT Agro Bengkulu Selatan Versi Managemen Perusahaan

Perkiraan Waktu Baca: 3 menit

Satujuang, Bengkulu Selatan- Managemen PT Agro Bengkulu Selatan menjelaskan kronologi lengkap kejadian berdarah yang menimpa karyawannya di lokasi perusahaan pada Senin (24/11/25).

Peristiwa ini bermula saat perusahaan berencana merehabilitasi jalan kebun menggunakan bulldozer, melibatkan sebelas karyawan dan dua operator alat berat, total tiga belas orang.

Pukul 12.00 WIB, sekitar lima puluh anggota Forum Masyarakat Pino Raya (FMPR) yang dipimpin Edi Hermanto mendatangi lokasi Divisi dua, Desa Karang Cayo, Kecamatan Pino Raya.

Mereka meminta karyawan PT Agro Bengkulu Selatan menghentikan rehabilitasi jalan dan mengeluarkan alat berat dari lokasi.

Pihak perusahaan menjelaskan bahwa penarikan alat berat tidak dapat dilakukan karena mereka beroperasi di dalam lokasi HGU blok E6.

Selanjutnya, FMPR menuntut dibuatnya surat pernyataan yang berisi larangan melakukan kegiatan perbaikan jalan.

“Karena sudah dikepung kami sudah ketakutan dan untuk menghindari bentrokan,” jelas Manajer Kebun Suri Bakti Damanik, dalam keterangannya Rabu (26/11/25).

Perusahaan menyetujui permintaan surat pernyataan, namun karena ketiadaan alat tulis di lokasi, mereka menawarkan untuk membuatnya di kantor PT Agro Bengkulu Selatan di Kota Manna.

FMPR menolak tawaran tersebut, bahkan juga menolak opsi pembuatan surat di kantor Desa Karang Cayo atau Kembang Seri.

Pukul 13.00 WIB, setelah surat pernyataan gagal dibuat, Edi Hermanto mewakili FMPR mengultimatum agar alat berat segera dikeluarkan dari lokasi.

Kemudian, Bakti Damanik ditarik oleh Edi Hermanto.

Edi Hermanto menarik Damanik sambil meminta alat berat dikeluarkan, lalu puluhan warga memukul pundaknya menggunakan pelepah sawit, bahkan ada perempuan yang ikut memukul.

“Saya dikeroyok,” ungkap Damanik mengenai kejadian berdarah tersebut.

Ia menambahkan, “Ada dua orang yang mencoba membacok dengan parang namun lengan tangan saya dan lengan tangan pembacok beradu, bacokan meleset.”

Setelah itu, Damanik diserang lagi oleh warga lain hingga terpeleset dan terjatuh terguling-guling.

“Saat saya mau bangkit terdengarlah suara letupan,” jelas Damanik, Ia mengaku bingung siapa penembaknya karena tidak ada anggotanya yang memiliki pistol.

Pukul 13.02 WIB, Riki, Asisten Keamanan dan Humas, berlari namun terjatuh, lalu dibacok oleh sekitar lima orang menggunakan parang dan pisau. Karyawan lain pun lari kocar-kacir menyelamatkan diri.

Pukul 13.36 WIB, Riki yang dikeroyok lima orang dan mengalami luka bacok, berhasil diselamatkan oleh karyawan Khairul, Gamis, Taufik, Reyhan, dan Kairman.

Khairul sendiri mengalami luka gores di tangan kanan akibat parang warga saat mencoba menyelamatkan Riki yang nyaris disembelih dengan parang.

Riki selamat dari kejadian berdarah itu, namun menderita sembilan luka bacok di kepala, leher, bawah ketiak, tangan, dan punggung, serta luka tusukan.

Riki segera dibawa ke Rumah Sakit M Damrah di Bengkulu Selatan, kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Asyifa di Bengkulu Selatan, dan terakhir dirujuk ke Rumah Sakit M Yunus di Kota Bengkulu. (Red)