Jakarta– Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Isy Karim mengakui bahwa saat ini kondisi harga beras tengah mengalami kenaikan.
Isy menjelaskan, alasan dari kenaikan harga ini salah satunya karena peningkatan biaya produksi di tingkat petani.
“Beras itu memang biaya produksi di petani naik,” ujar Isy, saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat.
Isy pun menyayangkan kondisi tersebut. Menurutnya, petani yang akan terkena imbas dari kenaikan biaya produksi ini, apalagi mengingat HET beras saat ini masih Rp.9.400.
Isy mengatakan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah menetapkan kenaikan harga eceran tertinggi (HET) beras.
Adapun kisaran kenaikan HET ini yakni Rp.10.900-11.800 untuk beras medium, dan Rp.13.900-14.800 untuk beras premium. Namun hingga saat ini, HET tersebut belum disetujui oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).
“Sebenarnya kasihan petani kalau masih rendah (HET). Memang kondisinya kalau dibandingkan biaya produksi harusnya tidak Rp.9.400 lagi, kan itu masih HET lama Rp.9.450,” imbuh Isy.
Sementara itu, dikutip dari Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional per 6 Juli ini, rata-rata harga beras nasional jenis premium menyentuh angka Rp.13.580 per kg.
Harga tersebut naik tipis dari hari sebelumnya di Rp.13.550 per kg. Kemudian untuk beras medium hari ini harga rata-ratanya Rp.11.890 per kg, naik tipis dari hari sebelumnya Rp.11.850 per kg.
Harga ini terpantau mengalami perubahan yang cukup fluktuatif dari besarannya pada 21 Juni kemarin.
Pada kala itu, Isy memaparkan, harga beras medium saat ini Rp.11.600/liter, beras premium Rp.14.000/liter, beras medium Perum Bulog Rp.9.900/liter.
“Beberapa komoditas yang masih berada di atas harga eceran tertinggi (HET), harga acuan pembelian (HAP) yang ditetapkan oleh Badan Pangan Nasional, yaitu antara lain beras, kemudian gula pasir, kemudian daging ayam ras dan telur ayam ras,” terangnya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Jakarta.(detik)
