Satujuang, Blitar- Pemerintah Kabupaten Blitar melalui Dinas Pendidikan berkomitmen kuat mencegah bullying di sekolah dasar guna mewujudkan generasi emas bebas kekerasan dan intoleransi, Jum’at (5/12/25).
Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan Kabupaten Blitar Zero Bullying dan Ramah Anak.
Sinergi pencegahan bullying melibatkan kerja sama antara sekolah, pemerintah daerah, kepolisian, orang tua, dan masyarakat untuk membangun budaya positif di sekolah, seperti empati dan penyelesaian konflik damai.
Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar menunjukkan komitmen serius untuk menghentikan bullying di sekolah, terutama di tingkat sekolah dasar (SD), melalui berbagai inisiatif dan program.
Terkait hal tersebut, sosialisasi intensif digencarkan kepada tenaga pendidik, siswa, dan masyarakat tentang bahaya bullying serta pentingnya kesadaran bersama untuk menumpasnya, menurut Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Sekolah Dasar (SD) Deni Setiawan.
“Kami menekankan pentingnya pengawasan yang lebih baik di lingkungan sekolah. Program-program ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi seluruh siswa khususnya tingkat dasar di Kabupaten Blitar,” jelas Deni.
Lebih lanjut, Deni Setiawan menyatakan bahwa pencegahan bullying harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan, serta menjadi tanggung jawab bersama.
Ia mengajak seluruh elemen, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, perangkat daerah, Forkompimda, hingga organisasi profesi guru untuk bersinergi dalam upaya ini.
“Bullying pada anak-anak dampaknya akan terbawa hingga dewasa. Oleh karena itu, harus dicegah sejak dini. Anak-anak adalah kader bangsa dalam menyongsong bonus demografi dan Indonesia Emas 2045,” tandasnya.
Selain itu, upaya mencegah bullying di sekolah dasar meliputi program sekolah yang proaktif, seperti sosialisasi anti-bullying, pelatihan guru, dan pembuatan kebijakan yang tegas, tambah Deni Setiawan.
“Di sisi lain, peran orang tua dan keluarga sangat penting dalam membangun komunikasi terbuka, menumbuhkan kepercayaan diri anak, serta mengajarkan empati dan cara menghadapi situasi perundungan,” pungkasnya. (Herlina/ADV)








Komentar