Malang – Tragedi sepakbola terjadi di Malang, bahkan paling parah sepanjang sejarah sepakbola di Malang.
Suporter mengamuk pasca kekalahan Arema FC 2-3 atas rivalnya Persebaya Surabaya, pada lanjutan laga Liga 1 di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang, Sabtu (1/10/22).
Usai pertandingan sebagian penonton berlari masuk dalam lapangan.
Petugas kepolisian pun langsung menembakkan gas air mata kepada penonton yang masih di dalam lapangan dan ke arah tribun.
Pada pukul 01.00 WIB tersiar kabar bahwa sebanyak 40 suporter meninggal serta dua aparat kepolisian melalui grup WhatsApp.
Sekitar 153 orang pun dilaporkan menjalani perawatan di rumah sakit.
Terdata di RS Wafa Husada : 101 orang, RS Teja : 24 orang, Klinik Sakavila : 4 orang, RS Hasta Husada : 4 orang, RS Mitra Delima : 4 orang, Klinik Madiva Husada : 4 orang, RS Syaiful Anwar : 2 orang.
Menurut sejumlah saksi mata, para penonton yang kecewa nekat masuk ke dalam lapangan dan melakukan pengrusakan.
Mereka pun terlibat bentrok dengan aparat yang berusaha melakukan pengamanan.
Disinyalir karena situasi yang makin tak terkontrol, polisi kemudian menembakkan gas air mata.
Kepulan asap gas air mata membuat kerumunan penonton berhamburan mencari jalan keluar.
Situasi saling bedesakan ditambah asap gas air mata diduga menjadi penyebab sejumlah penonton tak sadarkan diri akibat sesak napas.
Banyaknya penonton yang pingsan, membuat kepanikan di area stadion.
Jumlah korban yang membutuhkan bantuan medis tidak sebanding dengan jumlah tenaga medis yang disiagakan di Stadion Kanjuruhan.
Berdasarkan aturan FIFA yang tercantum dalam FIFA Stadium Safety and Security Regulations pada pasal 19 poin b, disebutkan bahwa sama sekali tidak diperbolehkan mempergunakan senjata api atau gas pengendali massa.
Tembakan gas air mata membuat banyak penonton mengeluh sesak nafas dan terinjak-injak saat berusaha meninggalkan tribun stadion.
Hingga Minggu (2/10) dini hari sekitar pukul 00.23 WIB masih terlihat truk hilir mudik mengangkut suporter yang membutuhkan perawatan.
Tak menunggu lama, terkait insiden ini PSSI langsung mengeluarkan hukuman dengan melarang Arema FC menjadi tuan rumah sampai Liga 1 Indonesia musim 2022-2023 ini.
“Tim Arema FC dilarang menjadi tuan rumah selama sisa kompetisi musim ini,” ujar Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan, dalam laman PSSI, Minggu pagi hari .
Iriawan mengatakan, PSSI menyesalkan peristiwa yang menimbulkan korban jiwa tersebut dan menegaskan dukungan kepada polisi guna menyelidiki kerusuhan berdarah ini.
PSSI pun telah membentuk tim investigasi yang segera berangkat ke Malang, guna menemukan gambaran utuh mengenai kejadian yang disebut salah satu yang terburuk dalam sejarah sepakbola di Indonesia. (Red/dws)








Komentar