Jakarta- Nilai tukar rupiah kembali melemah signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), anjlok 193,50 poin atau 1,20 persen ke level Rp 16.291 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi setelah pasar merespons pernyataan Federal Reserve (The Fed) yang mengisyaratkan penahanan suku bunga acuan untuk jangka waktu panjang, Kamis (19/12/24).
Terjun bebasnya nilai tukar rupiah ini melampaui asumsi pemerintah dalam APBN 2025, yang menetapkan kisaran Rp 16.000 per dolar AS.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), Edi Susianto, menegaskan bahwa BI terus menjaga stabilitas rupiah.
Dengan intervensi di berbagai pasar keuangan domestik, termasuk pasar spot, pasar forward non-deliverable domestik, dan pasar obligasi pemerintah.
“BI terus mengawal dengan masuk ke pasar untuk menjaga kepercayaan,” ujar Edi.
Ancaman PHK dan Inflasi akibat Pelemahan Rupiah
Ketua Komite Analisis Kebijakan Ekonomi Bidang Perbankan dan Jasa Keuangan Apindo, Aviliani, memberikan sinyal bahwa pelemahan rupiah dapat memicu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sejumlah sektor.
Menurutnya, biaya impor yang semakin mahal memaksa perusahaan melakukan efisiensi, yang sering kali berdampak pada pengurangan tenaga kerja.
“Efisiensi ini biasanya berujung pada PHK. Selain itu, perusahaan juga mungkin menaikkan harga barang agar tetap bertahan, yang pada akhirnya dapat memicu inflasi,” jelas Aviliani.
Ia menambahkan, sektor yang paling terdampak oleh pelemahan rupiah adalah sektor yang berhubungan langsung dengan masyarakat, seperti air bersih.
“Hampir semua sektor masih tumbuh positif, tapi air bersih menjadi salah satu sektor yang kondisinya memburuk,” terangnya.(Red/kumparan)
