Politik Pencitraan, Ustad Das’at Latif: Bentuk Kemunafikan

Perkiraan Waktu Baca: 2 menit

Jakarta – Ustad kondang, Das’at Latif secara tegas mengatakan bahwa bagi orang beragama, politik pencitraan adalah sebuah bentuk dari kemunafikan.

Statment ini dilontarkan ulama S3 ilmu komunikasi politik ini, dalam program acara salah satu stasiun televisi sebagai narasumber menyikapi pidato presiden Indonesia yang baru dilantik, Prabowo Subianto, Minggu (20/10/24) malam.

“Saya berharap, ya Allah mudah-mudahan pemimpin inilah yang memulai tidak ada lagi politik pencitraan, dalam ilmu politik itu wajar,” ujar ustad Das’at.

“Tapi bagi orang beragama pencitraan itu kemunafikan,” tegasnya.

Dirinya menaruh harapan besar dengan sosok Prabowo Subianto, agar tidak ada lagi pemimpin-pemimpin yang lahir dari hasil pencitraan.

“Tidak ada yang abadi dengan kemunafikan. Apa yang dikatakan lain dengan apa yang dikerjakan. Pasti akan hina pada akhirnya,” imbuhnya.

Ia juga berpesan, jika ingin menjadi pemimpin, harus punya wawasan yang luas. Tidak boleh menjadi katak dalam tempurung, harus baca perkembangan dunia.

Pandai dalam banyak bahasa, banyak ilmunya dan halus tutur kata. Karena negara ini sudah kehilangan tutur kata yang baik.

“Kita boleh tidak setuju, tapi jangan memaki,” pesannya.

Seperti diketahui, usai Pemilihan Legislatif (Pileg), Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, ditahun 2024 ini penduduk Indonesia kembali dihadapkan dengan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Para kandidat saat ini sedang gencar-gencarnya mencari simpatik masyarakat agar dipilih sehingga bisa duduk berkuasa.

Maka, masyarakat hendaknya memilih sosok pemimpin yang benar-benar ingin memajukan daerah. Bukan pemimpin yang hanya pintar melakukan pencitraan saja. (Red)