Perlambatan Ekonomi Cina dan Kenaikan Suku Bunga AS Tekan Rupiah

Perkiraan Waktu Baca: 2 menit

Jakarta– Perlambatan ekonomi Cina dan kenaikan suku bunga AS menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Senin (21/8/23)

Menurut Pengamat pasar uang, Ariston Tjendra, keputusan pemangkasan suku bunga pinjaman 1 tahun oleh bank sentral Cina pagi ini mungkin dapat meredakan kecemasan pasar.

Tetapi belum cukup untuk membalikkan sentimen perlambatan di Cina di mana masalah ini semakin diperparah dengan isu utang atau default yang melibatkan dua perusahaan properti terbesar Cina, yaitu Evergrande dan Country Garden.

Di sisi AS, data tenaga kerja yang solid dan penjualan ritel masih memberikan peluang kenaikan inflasi, sehingga meningkatkan potensi kenaikan suku bunga acuan AS di masa depan.

Ariston memperkirakan bahwa rupiah berpotensi melemah ke arah Rp.15.330, dengan potensi support di sekitar Rp.15.250.

Pada Senin pagi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 0,20 persen atau 31 poin menjadi Rp.15.321 per dolar AS dari sebelumnya Rp.15.290 per dolar AS.

Dolar memulai perdagangan dengan kuat di awal sesi Asia pada Senin pagi setelah mengalami kenaikan selama lima minggu berturut-turut.
Investor sedang menunggu simposium Jackson Hole Federal Reserve untuk mendapatkan panduan mengenai suku bunga ke depan.

Dolar berhasil menguat sebesar 0,7 persen terhadap euro minggu lalu, mengalami kenaikan tipis terhadap yen, dan melonjak lebih dari 1,0 persen terhadap mata uang Antipodean.

Hal ini karena imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat sebagai antisipasi suku bunga yang tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.(tempo)