Satujuang, Bengkulu- Infrastruktur pengendali banjir di Tanjung Agung hanyalah bagian kecil dari rencana besar Penanganan Banjir Bengkulu yang terdiri dari sembilan tahap.
Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VII Bengkulu menegaskan bahwa proyek ini merupakan investasi jangka panjang yang saling terintegrasi.
Mewakili Kepala BWSS VII Bengkulu, Wiel Mushawiry Suryana ST MT, Kepala Satuan Kerja (Kasatker) PJSA BWS Sumatera VII Bengkulu, Dr Hadi Buana ST MPSDA, meminta masyarakat untuk melihat persoalan banjir secara utuh.
Proyek Penanganan Banjir Bengkulu yang baru rampung di kawasan Tanjung Agung dan Tanjung Jaya ini hanyalah Tahap I, dengan nilai investasi baru sekitar Rp77 miliar.
Sementara total kebutuhan anggaran untuk menuntaskan masalah banjir secara menyeluruh sesuai perencanaan mereka mencapai Rp2,8 triliun.
“Kita bicara data kapasitas. Hasil pekerjaan Tahap I ini baru mampu mengatasi sekitar 0,36 juta meter kubik air hujan,” papar Hadi, Rabu (18/2/26)
Target total BWS Sumatera VII adalah menangani 1 juta meter kubik air hujan yang sering menyebabkan kawasan pemukiman terendam.
Artinya, infrastruktur yang ada saat ini baru menampung sekitar sepertiga dari total beban air hujan di wilayah tersebut.
Sisa beban air sebesar 0,64 juta meter kubik rencananya akan diatasi menggunakan kolam retensi yang akan dibangun pada tahap-tahap berikutnya.
Hadi menekankan bahwa Penanganan Banjir Bengkulu tidak bisa dilakukan secara parsial atau “setengah-setengah”.
Lingkup pekerjaan yang direncanakan meliputi sembilan poin krusial, mulai dari pembangunan tanggul sepanjang muara hingga jembatan Bentiring, peninggian rumah pompa, peremajaan pintu air, hingga normalisasi drainase utama kota.
“Kami minta masyarakat bersabar. Dari sembilan tahap, kita baru menyelesaikan satu. Ini bukan proyek sulap yang selesai dalam setahun, sehingga dampaknya memang belum menyeluruh ke seluruh kota,” imbuhnya. (Red)
