Bengkulu – Mahasiswa Universitas Bengkulu (UNIB) yang sedang fokus dengan Pemilihan Raya (Pemira) Gubernur Fakultas FKIP dihebohkan dengan tersebarnya Pamflet menyudutkan salah satu Paslon.
Berdasarkan penelusuran, pamflet-pamflet tersebut disebarkan secara masif oleh beberapa oknum mahasiswa melalui pesan WhatsApp dan akun Instagram.
Bukan hanya menyudutkan, bahkan juga didapati pamflet yang menuduh seorang wartawan tidak Independen dan menulis berita secara serampangan tanpa dasar.
Beberapa mahasiswa yang ikut menyebarkan tidak mau memberitahu siapa oknum pembuatnya, sehingga belum bisa didapatkan klarifikasi secara langsung.
Diduga, Pamflet tersebut muncul setelah terbitnya berita dengan judul “Berulah lagi, Jelang Verifikasi Berkas Ketua KPU Pemira FKIP Menghilang“.
Dalam pemberitaan tersebut disebutkan, ketakutan beberapa mahasiswa atas indikasi kecurangan yang akan terjadi dalam Pemira FKIP.
Indikasi dugaan aksi kecurangan ternyata juga diungkapkan oleh salah satu akun Instagram @kupufkip dalam postingannya, Selasa (31/5/22).
“hay wakk sekalian,, Mimin baru dapat informasi terbaru dan terpopuler, ni dilingkup FKIP Universitas Bengkulu. Katanya udah pemilihan nomor ni tadi pas jam 14.00 Selasa 31 Mei 2022. Kok bisa yaa langsung pemilihan no yaa kan kata mahasiswa FKIP kemarin bahwa ada yang kurang berkas ni”, ujarnya dalam postingan.
Dalam postingannya yang lain, akun tersebut juga menyebutkan bahwa ia mendengar proses verifikasi berkas paslon dilakukan tanpa sepengetahuan kedua paslon dan ada Paslon yang tidak melampirkan berkas Formulir pendaftaran sampai waktu pendaftaran habis.
Selain itu, akun tersebut juga membeberkan bahwa salah satu cagub merupakan anggota UKM yang sama dengan ketua KPU yaitu UKM Fosi.
Ia juga menyebutkan bahwa Gubernur sebelumya, DPM, Panwas, KPU dan P2Pemira merupakan anggota UKM Fosi juga.
Saat dikonfirmasi, Rahmat Wahyudi yang merupakan salah satu Paslon membenarkan bahwa proses verifikasi yang dilakukan KPU tanpa diketahui oleh mereka.
“Saya tidak pernah mendapatkan undangan dari mereka, bahkan sudah dihubungi tapi tidak ada kabar hingga pengambilan nomor Paslon,” ujar Rahmat Wahyudi, Selasa (31/5/22).
Ia mengatakan, sudah mengetahui siapa mahasiswa yang membuat pamflet tersebut, dan ia menduga pamflet Black Capaign ini sengaja disebarkan agar dia kalah di pemira.
Selain pamflet tersebut juga muncul pamflet lain yang menguraikan lima pelanggaran yang sudah dilakukan oleh Pemira FKIP UNIB, dengan diakhiri tulisan “SADAR BOS”.
Pihak KPU Pemira FKIP hingga saat ini belum mau memberikan keterangan, begitu juga dengan ketua Panwas hingga berita ini tayang sulit untuk dihubungi. (Red)
