Menyongsong Kebangkitan ‘Raksasa Tidur’, Pelindo Targetkan Pulau Baai Jadi Hub Utama Pantai Barat Sumatera

Perkiraan Waktu Baca: 3 menit

Satujuang, Bengkulu- General Manager PT Pelindo Regional II Bengkulu, Dr Dimas Rizky Kusmayadi SH MH M.Si, melontarkan optimisme besar terhadap masa depan ekonomi Provinsi Bengkulu melalui pelabuhan Pulau Baai.

Ia mengibaratkan Bengkulu layaknya “raksasa yang sedang tertidur” dengan potensi sumber daya alam melimpah yang belum tergarap maksimal melalui pintu gerbang lautnya sendiri.

Pernyataan tersebut disampaikan Dimas dalam acara Media Gathering di Bengkulu dengan memgusung tema Bersama Media Mengawal Transformasi Pelabuhan, Rabu (4/2/26).

Ia menegaskan bahwa Pelabuhan Pulau Baai memiliki modalitas kuat untuk bertransformasi menjadi pelabuhan terbesar di Sumatera, khususnya di sepanjang pesisir barat.

“Ibarat raksasa yang sedang tertidur, Bengkulu punya potensi luar biasa. Namun, selama ini kita masih melihat kekayaan alam kita justru memperkuat pelabuhan tetangga,” ujar Dimas di hadapan awak media.

Untuk membangunkan ‘sang raksasa’, Pelindo saat ini tengah mengebut pengembangan Kawasan Industri (KI) seluas 215 hektar di area pelabuhan.

Fokus utamanya adalah penguatan terminal curah kering dan pembangunan terminal curah basah yang modern. Sektor Crude Palm Oil (CPO) menjadi sasaran tembak utama.

Data Pelindo menunjukkan anomali logistik yang cukup tajam: dari total produksi 1,4 juta ton CPO Bengkulu per tahun, hanya sekitar 300 ribu ton yang dikirim melalui Pulau Baai.

Sisanya, sebanyak 1,1 juta ton, “bocor” ke Pelabuhan Teluk Bayur (Sumatera Barat) dan Pelabuhan Panjang (Lampung).

“Target kami pembangunan terminal curah basah ini rampung November 2026. Ini strategis untuk menarik investor hilirisasi CPO, seperti pabrik minyak goreng, agar beroperasi langsung di Bengkulu,” tambahnya.

Transformasi ini mustahil terwujud tanpa alur pelayaran yang mumpuni. Pulau Baai selama ini terkendala serangan sedimentasi pasir dari Samudera Hindia yang mencapai 1.000 hingga 2.000 ton per hari.

Namun, harapan baru muncul menyusul implementasi Inpres No 12 Tahun 2025 tentang penanganan darurat alur.

Dimas mengklaim, saat ini kedalaman alur telah stabil di angka 6,5 meter LWS dan sedang dipacu menuju 12 meter LWS.

“Semua urusan perizinan pengerukan dan teknis sedang kami kerjakan secara paralel. Dengan kedalaman 12 meter, kapal-kapal besar tidak perlu lagi menunggu pasang atau melakukan transhipment di tengah laut,” jelas Dimas.

Selain batu bara, semen, dan cangkang sawit yang masih mendominasi ekspor saat ini, Pelindo mulai membidik sektor perikanan dan perkebunan kopi.

Dimas mempertanyakan mengapa kopi Bengkulu yang berkualitas dunia seringkali tidak tercatat sebagai ekspor orisinal daerah karena dikirim melalui kontainer di pelabuhan luar.

“Pertanyaannya sekarang, Bengkulu siap maju atau tidak? Kolaborasi lintas sektor adalah harga mati untuk meningkatkan daya saing pelabuhan kita secara nasional,” tegasnya menutup sesi.

Hingga saat ini, Pelindo terus melakukan pendekatan intensif kepada calon investor seiring dengan kemajuan fisik normalisasi alur pelayaran yang ditargetkan menjadi tonggak baru ekonomi Bengkulu pada akhir 2026. (Red)