Mengapa Krisis Karier Puncak di Usia 40-an?

Perkiraan Waktu Baca: 2 menit

Jakarta- Krisis pertengahan karier adalah tantangan yang sering dihadapi seseorang setelah beberapa tahun bekerja.

Kondisi ini ditandai dengan keinginan untuk berubah akibat kurangnya motivasi, hilangnya gairah kerja, atau rasa ketidakpuasan terhadap posisi saat ini.

Gejala umum meliputi keinginan berganti karier, berhenti bekerja, mencari posisi baru, atau merasa pekerjaan yang ada tidak lagi menantang.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Socio-Economic Review menemukan bahwa krisis pertengahan karier paling banyak dialami oleh pekerja berusia 40-an, khususnya mereka yang berada di posisi manajerial dan profesional.

Studi ini menganalisis data dari lebih dari 100.000 pekerja di Inggris melalui empat survei nasional, termasuk UK Skills and Employment Survey dan British Household Panel Survey.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan kerja pekerja profesional mengikuti pola berbentuk U, dengan tingkat terendah pada usia 40-an sebelum kembali meningkat di kemudian hari.

Sebaliknya, pekerja di kelas menengah dan bawah tidak menunjukkan pola serupa, yang membantah anggapan bahwa krisis ini berlaku universal.

Profesor Ying Zhou dari Universitas Surrey, penulis utama penelitian, menjelaskan bahwa usia 40-an merupakan periode transisi yang penuh tekanan, sering kali ditandai dengan frustrasi dan keputusasaan. Meski demikian, fase ini bersifat sementara dan dapat diatasi.

Peneliti mendorong perusahaan untuk memberikan dukungan lebih kepada karyawan di usia 40-an dan 50-an melalui pengembangan karier dan peluang pemenuhan diri.

Langkah ini diyakini dapat meningkatkan kepuasan kerja, mengurangi potensi krisis, dan menciptakan budaya kerja yang lebih sehat dan produktif.(Red/detik)