Satujuang, Seluma- Pembongkaran bagian lantai Jembatan Matan yang ambruk di Seluma mengungkap fakta mengejutkan terkait kualitas konstruksinya.
Puing beton lantai jembatan yang dihancurkan menggunakan alat berat tidak menunjukkan adanya rangka besi sebagai tulang penguat.
Temuan ini memicu kecurigaan serius terhadap kualitas proyek yang menghubungkan Desa Rawa Indah dengan Desa Pasar Seluma tersebut.
Proyek pembangunan Jembatan Matan sendiri diketahui bersumber dari Dana Hibah Pasca Bencana BNPB Tahun 2025 dengan nilai mencapai Rp16 miliar.
Kondisi ini memperkuat dugaan publik bahwa proses perencanaan hingga pelaksanaan proyek sarat adanya indikasi penyimpangan.
Warga Desa Rawa Indah, Andi Wijaya, yang kerap melintasi akses tersebut, menilai pembangunan jembatan sejak awal menyisakan banyak kejanggalan.
“Perencanaan harusnya berdasarkan analisa, masa ini banjir segitu saja sudah ambruk, belum nanti pasang laut yang sangat ganas,” ujar Andi Wijaya kepada Satujuang.com, Rabu (15/4/26).
Ia menambahkan, berdasarkan keterangan pekerja disana, sabuk jembatan itu hanya besi 6 meter dibagi 2, sehingga kedalam diprediksi tidak lebih dari 3 meter.
” Jadi wajar air masuk jalan bawah,” imbuhnya.
Andi juga memperingatkan potensi kerusakan lanjutan pada bagian oprit jembatan di sisi arah Rawa Indah.
Bagian tersebut dinilai memiliki struktur serupa dan rentan terhadap kondisi cuaca ekstrem yang tidak dapat diprediksi di Seluma.
Selain itu, kondisi konstruksi di lapangan dinilai tidak memenuhi standar, terutama pada bagian timbunan di bawah lantai jembatan yang seharusnya melalui proses pemadatan terukur.
“Pasirnya itu berdasarkan informasi ngambil dari pasir sekitar itu saja, bukan jenis sirtu atau koral yang dipadatkan menggunakan wales,” tutup Andi Wijaya, tokoh masyarakat sekaligus pejuang pembangunan Jembatan Matan Seluma.
Sebelumnya, seperti diketahui Jembatan Matan ambruk akibat terjangan banjir pada 6 April 2026 lalu.
Ironisnya, jembatan tersebut baru berusia sekitar dua bulan sejak diresmikan oleh Gubernur Bengkulu pada 6 Februari 2026.
Proyek ini dikerjakan oleh PT Rodateknindo Purajaya.
Usia jembatan baru ini jauh lebih singkat dibanding jembatan lama yang mampu bertahan puluhan tahun sebelum mengalami kerusakan. (da)
