Satujuang, Bengkulu– Pulau Enggano masih tercekik dalam krisis Ekonomi, meski Presiden Prabowo Subianto telah menandatangani Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 12 Tahun 2025 tentang Penanganan Darurat Pulau Enggano.
Alih-alih merasakan dampak nyata, warga Enggano justru mempertanyakan sejauh mana implementasi Inpres tersebut menjawab krisis riil di pulau terluar itu.
“Enggano saat ini bukan sedang mengemis makanan. Kami hanya butuh kapal untuk mengangkut hasil bumi kami agar ekonomi bisa pulih,” tegas Paabuki Enggano, Milson Kaitora dalam sebuah diskusi publik, Minggu (29/6/25) malam.
Ia menyebut narasi media yang menggambarkan Enggano dalam kondisi “baik-baik saja” sebagai bentuk kebohongan terang-terangan.
“Kalau memang peduli, turun langsung ke sini. Lihat sendiri apakah rakyat kami baik-baik saja,” katanya.
Senada, Kepala Desa Kaana, Alamuddin menyatakan siap membawa siapa pun yang ingin mengetahui kondisi terkini masyarakat yang sebenarnya.
Ia menyoroti pentingnya moda transportasi laut yang kini lumpuh total, terutama sejak akses pelabuhan di Pulau Baai mengalami pendangkalan parah.
“Masyarakat butuh kapal untuk mengangkut hasil bumi agar ekonomi kembali membaik,” ujar Alimuddin senada dengan yang lainnya.
Dampak krisis ini juga dirasakan langsung oleh perempuan di Enggano. Puji Hendri, aktivis dari Ruang Puan, menyoroti beban mental yang menimpa kaum ibu.
“Perempuan adalah pengatur keuangan rumah tangga. Ketika ekonomi hancur, mereka yang pertama kali harus berjuang menutup semua kekurangan. Ada tekanan psikologis yang tak terlihat,” ujarnya.
Diskusi publik ini membuka paradigma berbeda di tengah ruang publik tentang sejumlah pemberitaan yang menyebutkan seolah Enggano “baik-baik saja”.
Para tokoh lokal justru membongkar kenyataan pahit bahwa pulau ini belum benar-benar tersentuh dampak konkret dari Inpres darurat tersebut.
Diskusi ini digelar oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Bengkulu di jalan Danau gang Tempua Kota Bengkulu.
Dihadiri oleh Ketua Pengurus Aman Bengkulu Fahmi Arisandi, M Prihatno dari Azam Community, Puji Hendri dari Ruang Puan, Dr Arie Elcaputra Akademisi UNIB, Harry Siswoyo dari Aji Bengkulu dan masyarakat.
Sementara Alimuddin Kades Kaana, Paabuki Enggano Milson Kaitora, hadir melalui sambungan video. (Red)
