Satujuang, Bengkulu– Diskusi publik bertajuk “Peluang dan Tantangan Inpres Pulau Enggano” yang digelar Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Bengkulu mengungkap fakta bahwa pasokan listrik dan bahan bakar minyak (BBM) di Pulau Enggano ternyata belum seaman yang diberitakan.
Paabuki Enggano, Milson Kaitora, secara tegas mempertanyakan klaim stok BBM aman yang ramai diberitakan sejumlah pihak saat ini
“Kalau BBM aman, mengapa listrik masih dibatasi?,” kata Milson secara virtual, Minggu (29/6/25).
Narasi BBM aman yang ramai disebarkan saat ini langsung terpatahkan di tengah diskusi berlangsung, tepat jam 22.00 listrik padam di pulau Enggano. Milson Kaitora dan Kades Kaana, Alamuddin terpaksa mengikuti diskusi dalam keadaan gelap.
Untuk diketahui, berdasarkan pengumuman resmi dari PLTD Enggano, sejak 20 Juni hingga 6 Juli 2025, dilakukan pemadaman listrik terjadwal setiap hari pukul 11.00–15.59 dan 22.00–04.59 WIB.
Khusus Jumat dan Minggu, pemadaman siang dimulai pukul 13.00. Bila BBM tidak masuk hingga 6 Juli, listrik terancam padam total.
Kondisi ini dinilai bertolak belakang dengan keterangan resmi Pertamina. Dalam laporannya kepada Gubernur Bengkulu, pertamina menyebut stok BBM per 24 Juni dalam kondisi aman: Pertalite 30.694 liter, Biosolar 19.815 liter, Kerosene 6.641 liter, serta Bright Gas 12 kg sebanyak 60 tabung.
“Rata-rata konsumsi BBM masih di bawah rencana penyaluran harian. Pertalite bahkan cukup untuk 20 hari ke depan,” ujar Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Erwin Dwiyanto dalam laporan tertulisnya seperti dilansir dari Antara yang terbit pada Selasa (24/6).
Diskusi ini menjadi momentum koreksi terhadap narasi “aman” yang selama ini dibangun secara sepihak. Sekaligus sebagai langkah mengawal implementasi Inpres.
Para peserta sepakat bahwa kondisi Enggano belum benar-benar tersentuh secara nyata oleh dampak Inpres 12/2025.
Fakta di lapangan membuktikan bahwa Enggano masih berjuang dalam keterbatasan infrastruktur dasar, termasuk listrik dan BBM yang semestinya menjadi perhatian pertama dalam situasi darurat.
Diskusi ini dihadiri Ketua AMAN Bengkulu Fahmi Arisandi, aktivis Azam Community M Prihatno, akademisi Universitas Bengkulu Dr Arie Elcaputra, jurnalis Harry Siswoyo dari AJI Bengkulu, dan aktivis perempuan Puji Hendri dari Ruang Puan serta masyarakat yang peduli dengan kondisi pulau Enggano.
Sementara Paabuki Enggano, Milson Kaitora dan Kades Kaana, Alamuddin hadir dalam diskusi secara virtual.(Red)
