Budi Arie Dicopot, Relawan Jokowi: ‘Pak Prabowo Jangan Arogan’

Perkiraan Waktu Baca: 2 menit

Satujuang, Jakarta – Ketua Umum relawan We Love Jokowi, Yanes Yosua Frans, menyatakan kekecewaan mendalam setelah pemerintah melakukan perombakan kabinet yang menyingkirkan Budi Arie Setiadi dari posisi Menteri Koperasi.

Presiden Prabowo Subianto resmi mencopot Budi Arie pada Senin (8/9) dan segera melantik Ferry Juliantono sebagai Menteri Koperasi yang baru. Ferry sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Koperasi dan mendampingi Budi Arie.

Dalam pernyataannya yang dikutip dari WartaKotaLive.com pada Rabu (10/9/25), Yanes mengecam langkah presiden dan menilai keputusan itu tidak hanya mengejutkan, tetapi juga merugikan pilar-pilar pendukung pemerintahan sebelumnya.

“Pak Prabowo, jangan terlalu arogan. Terlepas dari hak prerogratif Anda, keputusan itu tidak boleh diambil semena-mena,” ujar Yanes.

Yanes mempertanyakan dasar pencopotan tersebut dan menuntut penjelasan mengenai tuduhan atau pelanggaran yang mungkin menjadi alasan.

Ia menegaskan bahwa Budi Arie memiliki catatan kerja yang dinilai baik, termasuk program pembinaan untuk membangun 80.000 koperasi di seluruh Indonesia.

“Dia salah apa? Apakah ada kasus korupsi? Apakah dia berbuat salah?” kata Yanes.

Lebih jauh, Yanes menyoroti peran mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan jaringan relawannya yang, menurutnya, telah banyak membantu Prabowo, terutama pada kontestasi Pilpres 2024.

Ia menilai tindakan mencopot tokoh-tokoh yang dekat dengan Jokowi serupa dengan meminggirkan kelompok pendukung yang telah berkontribusi bagi kemenangan pemerintah saat ini.

Yanes juga menyinggung hubungan personal dan politik antara Prabowo dan Jokowi.

Menurutnya, bantuan Jokowi termasuk dukungan politik pada pemilu dan pengangkatan Prabowo sebagai Menteri Pertahanan sebelumnya, semestinya menjadi alasan untuk menjaga hubungan kerja yang lebih hati-hati.

“Anda empat kali ikut pemilu dan kalah, lalu terakhir minta tolong kepada Jokowi. Jokowi mengangkat Anda sebagai Menhan. Masih kurang apa?” ujarnya.

Ketegangan ini, kata Yanes, membuat relawan Jokowi merasa dikhianati. Ia memperingatkan bahwa jika sikap Presiden dianggap sebagai bentuk permusuhan terhadap Jokowi, maka hal itu otomatis memengaruhi hubungan dengan relawan dan pendukung Jokowi di lapangan.

“Membenci Jokowi sama dengan membenci relawan Jokowi,” tutup Yanes.

Pencopotan ini diperkirakan akan memicu perdebatan politik lebih lanjut, terutama soal alasan reshuffle dan implikasinya terhadap koalisi serta stabilitas dukungan politik di tingkat akar rumput. (AHK)