Satujuang, Bengkulu – Kasus balita mengeluarkan cacing gelang kembali terjadi di Indonesia. Setelah sebelumnya menimpa seorang anak di Sukabumi, kini giliran Khaira Nur Sabrina, balita berusia 1 tahun 8 bulan asal Desa Sungai Petai, Kecamatan Talo Kecil, Kabupaten Seluma, Bengkulu, yang mengalami hal serupa.
Khaira dilarikan ke RSUD Tais pada Minggu (14/9) dengan gejala demam tinggi, batuk berdahak, dan suspek infeksi paru-paru.
Namun, dalam perawatan di ICU, ia berulang kali mengeluarkan cacing gelang (Ascaris) dari mulut dan hidung. Total sembilan ekor cacing telah keluar dari tubuhnya.
Tak hanya Khaira, sang kakak Aprilia (4) juga mengalami hal sama. Beberapa bulan sebelumnya, dari tubuhnya keluar cacing melalui anus.
Keduanya kini menjalani perawatan di RSUD M Yunus Bengkulu dan RS Ummi Kota Bengkulu.
Kondisi ini menjadi ironi di tengah program kesehatan desa yang semestinya melindungi anak-anak.
Orangtua Khaira mengaku rutin membawa anak ke Posyandu untuk imunisasi dan mendapatkan obat cacing.
Namun, Deputi Peningkatan Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI, Linda Restaningrum, justru mengungkap obat cacing yang diberikan selama ini tidak pernah diminum.
“Kalau dilihat dari kondisi rumahnya memang kebersihannya kurang. Dan ternyata obat cacing yang disediakan Posyandu itu tidak diminum,” ujar Linda usai menjenguk kedua balita, Rabu (17/9/25).
Hasil investigasi Dinas Kesehatan Seluma juga menemukan rumah keluarga Khaira tidak layak huni.
Berlantai tanah, berdinding papan, serta berdampingan dengan kandang ayam, rumah tersebut menjadi lingkungan rawan penularan penyakit.
Meski program Posyandu di desa disebut aktif, fakta bahwa dua balita dari keluarga yang sama mengalami cacingan parah menyingkap celah besar sistem kesehatan di desa.
Bukan hanya soal distribusi obat, tapi juga edukasi, sanitasi, gizi, hingga pengawasan yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama pemerintah daerah hingga pusat.
Saat ini kedua balita masih dalam perawatan intensif. Kemenkes memastikan observasi lanjutan akan dilakukan untuk memastikan kondisi mereka benar-benar pulih.
Kasus ini menambah daftar panjang problem kesehatan anak di daerah, sekaligus menjadi alarm keras bahwa sistem kesehatan masyarakat di tingkat desa belum sepenuhnya berjalan.
Berikut skema kerja sistem kesehatan desa yang benar:
1. Deteksi & Pencegahan Dini
Posyandu aktif bukan hanya untuk timbang dan imunisasi, tapi juga edukasi rutin soal gizi, sanitasi, dan pencegahan penyakit.
Pemberian obat cacing harus dipastikan dikonsumsi, bukan hanya dibagikan. Perlu mekanisme pengawasan oleh kader kesehatan atau bidan desa.
Edukasi orang tua dengan bahasa sederhana, bukan hanya teori, agar mereka paham pentingnya gizi, kebersihan lingkungan, dan bahaya penyakit.
2. Sanitasi & Lingkungan Sehat
Sistem kesehatan desa wajib berkolaborasi dengan program desa lain (PU, PMD, dll.) agar rumah layak huni, air bersih, dan sanitasi benar-benar tersedia.
Ada pemantauan lingkungan (cek kandang ternak, air sumur, toilet sehat). Ini mestinya jadi program lintas sektor, bukan hanya tanggung jawab Dinkes.
3. Gizi & Ketahanan Pangan
Pemantauan status gizi anak setiap bulan melalui posyandu. Jika ditemukan kurang gizi, langsung ada intervensi (pemberian makanan tambahan, vitamin, susu).
Melibatkan PKK, karang taruna, dan perangkat desa untuk memastikan anak-anak tidak kekurangan gizi.
4. Rujukan Medis Cepat
Puskesmas harus punya mekanisme rujukan cepat ke rumah sakit bila ada kasus gawat darurat.
Koordinasi dengan RSUD dan Dinas Kesehatan harus berjalan tanpa birokrasi berbelit.
5. Pendampingan Keluarga Miskin
Ada pendamping khusus (kader/relawan desa) untuk keluarga rentan: rumah tidak layak huni, ekonomi lemah, pendidikan rendah.
Pendamping ini bertugas memastikan anak sehat, obat diminum, dan jika ada tanda penyakit langsung dilaporkan ke bidan desa.
6. Pengawasan & Evaluasi
Dinas Kesehatan bersama Puskesmas wajib melakukan audit kesehatan desa: cek angka cacingan, stunting, gizi buruk.
Evaluasi ini harus dipublikasikan agar masyarakat tahu kondisi kesehatan desanya, bukan hanya disimpan di laporan.
Sistem kesehatan desa yang benar bukan hanya “ada Posyandu dan bagi obat”, tapi bagaimana obat itu diminum, gizi anak terpenuhi, rumah sehat terjamin, dan orang tua paham cara menjaga anaknya. Kalau salah satu saja bolong, kasus seperti Khaira akan terus berulang. (Red)
