Satujuang, Bengkulu – Krisis bahan bakar minyak (BBM) di Bengkulu kembali memuncak. Ratusan kendaraan roda dua dan roda empat tampak mengular di setiap Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Bengkulu, Minggu (25/5/25).
Antrian panjang ini bahkan mencapai beberapa kilometer, menyebabkan kemacetan di sejumlah titik.
Pantauan langsung awak media di lapangan menunjukkan antrean mengular di SPBU KM 7 Kota Bengkulu, memaksa sebagian pengendara mencari jalur alternatif untuk menghindari kemacetan.
Hal serupa terjadi di SPBU Pagar Dewa, di mana antrean kendaraan memanjang hingga simpang empat Tugu Garuda dan menyebabkan kemacetan hingga tikungan jalan.
Kondisi ini ternyata juga terjadi di SPBU lainnya yang ada di Kota Bengkulu.
Di sisi lain, harga BBM eceran melonjak tajam. Di beberapa lokasi, harga Pertalite eceran dijual antara Rp25 ribu hingga Rp80 ribu per liter seperti terjadi di Kabupaten Seluma.
Sebuah video yang beredar di media sosial menunjukkan seorang pria menjual Pertalite seharga Rp80 ribu perliter. Pengendara dalam video itu memilih meninggalkan lokasi setelah mendengar harga yang ditawarkan.
Menanggapi krisis ini, Gubernur Bengkulu Helmi Hasan mengambil langkah menggelar rapat koordinasi bersama pihak Pertamina Bengkulu pada hari yang sama.
Ia mendesak Pertamina untuk menambah kuota BBM bagi Bengkulu dan menyampaikan bahwa kelangkaan ini bukan semata akibat pendangkalan alur laut di Pelabuhan Pulau Baai.
“Ini bukan sekadar soal pendangkalan. Dulu waktu alur masih bagus pun, antrean tetap panjang. Jadi kita butuh solusi lebih menyeluruh,” tegas Helmi.
Gubernur menyatakan Pemprov Bengkulu akan mengirim surat resmi ke Menteri BUMN dan Direksi Pertamina, menuntut tambahan kuota BBM dan pemerataan distribusi.
Ia juga menyebut bahwa provinsi tetangga seperti Lampung dan Sumatera Selatan tidak mengalami kelangkaan serupa.
Selain itu, Helmi mendesak penguatan sistem pengawasan distribusi BBM bersubsidi, termasuk melalui sistem barcode untuk mencegah penimbunan.
“Jangan panik, jangan beli berlebihan. Pemerintah sedang berupaya penuh agar kebutuhan BBM masyarakat segera terpenuhi,” imbuhnya.
Sementara itu, pihak Pertamina Bengkulu melalui perwakilannya, Fauzan, menjelaskan bahwa saat ini distribusi BBM ke Bengkulu bergantung pada jalur darat dari Lubuk Linggau dan Jambi, karena kapal tanker belum bisa bersandar di Pelabuhan Pulau Baai.
“Distribusi dari Palembang ke Lubuk Linggau memakai kereta, tapi saat ini ada kendala operasional. Dampaknya, stok di Lubuk Linggau kosong,” ungkap Fauzan.
Pertamina kini tengah berkoordinasi dengan PT KAI untuk mempercepat pemulihan distribusi.
Belum diketahui sampai kapan kondisi ini akan berlangsung. Warga berharap pemerintah dan Pertamina segera menemukan solusi konkret agar kebutuhan energi masyarakat Bengkulu bisa kembali normal.
Kondisi ini semakin dikhawatirkan masyarakat yang mau menjalankan aktivitas di awal pekan hari Senin esok. (Red)
