BWSS VII Bengkulu Pastikan Irigasi Mukomuko Normal, Air Sudah Mengalir ke Sawah Petani

Perkiraan Waktu Baca: 2 menit

Satujuang, Mukomuko- Balai Wilayah Sungai Sumatera VII (BWSS VII) memastikan proyek Irigasi Mukomuko kini berfungsi normal, dengan air telah mengalir ke sawah petani.

Koordinator Proyek BWSS VII, Alvian Defarian, menyatakan bahwa pihaknya telah turun langsung ke lokasi pada Rabu (7/1) untuk memantau kondisi teknis sekaligus berdialog dengan para petani serta Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).

“Alhamdulillah, air sudah mengalir dan petani dapat segera mempersiapkan lahan. Kami di BWSS sangat terbuka terhadap aspirasi petani. Jika ada kebutuhan mendesak terkait penyediaan air, kami siap membantu agar siklus pertanian berjalan lancar,” ujar Alvian, saat dikonfirmasi Jumat (9/1) kemarin.

Ia juga menegaskan bahwa saat ini tidak ada kendala signifikan di lapangan.

Pengaturan pembagian debit air pada ruas-ruas saluran telah dilakukan melalui pintu bendung sesuai dengan kebutuhan luas tanam di masing-masing wilayah.

Senada dengan pihak balai, Trian Ilham Rahmadani dari PT Mitra Ciasem Raya selaku kontraktor pelaksana, mengonfirmasi bahwa normalisasi saluran telah tuntas dilakukan.

Ia menjelaskan bahwa sempat tersumbatnya aliran air disebabkan oleh gundukan tanah yang digunakan sebagai akses alat berat (excavator) selama masa konstruksi.

“Pada 7 Januari, kami langsung melakukan pembersihan saluran di area BP agar air bisa mengalir. Tanah tersebut sebelumnya memang disiapkan untuk akses excavator saat pengerjaan siring. Begitu air akan dialirkan, jalur tersebut langsung kami normalkan kembali,” jelas Trian saat dikonfirmasi melalui pesan elektronik, Sabtu (10/1/26).

Sebelumnya, proyek Irigasi Mukomuko senilai Rp25 miliar ini sempat menjadi sorotan publik.

Para petani di Kecamatan Lubuk Pinang merasa khawatir karena jadwal tanam perdana Januari 2026 terancam mundur ke bulan Maret akibat air yang tak kunjung sampai ke wilayah BP IV.

Beberapa poin yang sempat menjadi keluhan masyarakat terkait Irigasi Mukomuko antara lain:

  • Keterlambatan Pengairan: Padahal Komisi Irigasi Kabupaten Mukomuko telah menyepakati pembukaan pintu air DI Manjuto Kiri pada 1 Januari 2026.
  • Mutu Teknis: Munculnya dugaan pengerjaan yang minim pengawasan karena adanya sumbatan tanah di badan saluran.
  • Dampak Ekonomi: Kekhawatiran petani akan kerugian akibat pergeseran kalender tanam.

Meskipun sempat diwarnai kritik pedas terkait kesesuaian lapangan dengan Rencana Anggaran Biaya. (RAB), pihak BWSS VII kini menjamin proyek tersebut telah berfungsi sesuai fungsinya.

Dengan mengalirnya air ke hilir, kekhawatiran petani mengenai penundaan musim tanam diharapkan dapat segera sirna, dan aktivitas pertanian di Kabupaten Mukomuko kembali produktif. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *