Teriakan Sunyi dari Enggano: Tiga Warga Sakit Terjebak Tanpa Transportasi, Butuh Evakuasi Medis Segera

Perkiraan Waktu Baca: 2 menit

Satujuang, Bengkulu – Pulau Enggano kembali menjerit dalam sunyi. Isolasi panjang yang dialami pulau terluar Indonesia ini belum juga menemukan titik terang. Kini, kondisi kian mengkhawatirkan.

Tiga warga Desa Meok sedang dalam kondisi darurat medis, namun terjebak tanpa akses transportasi untuk mendapat pertolongan.

“Inilah tiga pasien warga Desa Meok yang sangat membutuhkan penanganan tenaga medis secepatnya di Enggano,” demikian kutipan pesan WhatsApp dari grup Kecamatan Enggano, Minggu (1/6/25).

Warga yang sakit hendak dirujuk ke Kota Bengkulu, namun mereka tertahan. Kapal penyeberangan belum tersedia, sementara tiket pesawat perintis selalu penuh.

Akses satu-satunya yang diandalkan kini hanya harapan.

“Mohon bantuannya,” tutup pesan singkat itu, lirih penuh harap.

Kepala Desa Meok, Siman, membenarkan situasi ini saat dikonfirmasi. Ia menyebut tiga warga desanya benar-benar membutuhkan penanganan medis lanjutan di luar pulau.

“Satu warga mengalami vertigo disertai muntah-muntah. Alhamdulillah sudah sedikit membaik setelah ditangani bidan desa,” ujar Siman.

Namun dua lainnya, kondisinya jauh lebih serius, diantaranya seorang ibu menderita kombinasi penyakit darah tinggi, diabetes, dan gangguan lainnya.

Saat ini ibu tersebut masih dirawat bidan desa, namun kondisinya belum stabil dan perlu segera dirujuk ke Bengkulu.

“Kemudian khatib Masjid Al-Iqra Desa Meok, yang sedang dalam kondisi sangat memprihatinkan. Ia membutuhkan perawatan dokter spesialis sesegera mungkin,” desak Siman.

Kondisi ini memperlihatkan betapa rentannya kehidupan warga Enggano ketika akses dasar seperti transportasi dan kesehatan tidak bisa mereka nikmati sebagaimana mestinya.

Isolasi bukan hanya soal jarak, tapi juga soal nasib dan nyawa. Pemerintah dan pemangku kebijakan diminta untuk tidak menutup mata.

Teriakan dari Enggano bukan sekadar kabar biasa, ini jeritan kemanusiaan yang seharusnya segera direspons. (Red)