Satujuang– “Rage Against The Machine”, Musik, Politik dan Gerakan Perlawanan. Rage Against The Machine (RATM) adalah salah satu grup musik bergenre Rap Metal (Hip Hop Metal) yang di bentuk pada era tahun 1991 di Los Angeles, California, Amerika Serikat (AS).
RATM yang di gawangi oleh Zack de la Rocha (Vokalis), Tom Morello (Gitaris), Tim Commerford (Bassis) dan Brad Wilk (Drummer) di kenal sebagai grup musik Rap Metal politik yang paling keras dalam mengekspresikan gerakan perlawanan dan pandangan politiknya.
Mayoritas musisi enggan bersinggungan dengan politik di sebabkan mereka khawatir akan kehilangan pangsa pasarnya, namun RATM justru sebaliknya,
Dengan keberhasilannya dalam menjual lebih dari 16 juta rekaman di seluruh dunia, mereka semakin lantang menyuarakan perlawanan dan ideologi politiknya dan menjadikan musik mereka sebagai senjata utama dalam menyatakan sikap politiknya.
Di kancah musik rock, RATM terlanjur di cap sebagai grup band sayap kiri yang paling agresif dan progresif, di karenakan grup ini adalah grup musik yang paling konsisten menyuarakan masalah-masalah yang di hadapi oleh masyarakat Amerika Serikat (AS), seperti rasisme, perang dan tindak kekerasan terhadap minoritas.
Tidak hanya itu, RATM juga secara terangan-terangan menyuarakan perlawanan terhadap sistem kapitalisme AS, di mana sistem ini mereka anggap memperbudak dan melahirkan ketidakadilan bagi rakyat.
Hampir seluruh lirik-lirik lagu RATM layaknya puisi politik revolusioner yang begitu keras menyuarakan amarahnya terhadap ketidakadilan, Dan tak jarang mereka juga ikut berpartisipasi langsung dalam aksi-aksi protes politik serta aktif dalam pergerakan aktivis.
Lirik lagu RATM yang di tuangkan dalam lagu berjudul “Killing In The Name”, yang isinya mengangkat isu tentang kekerasaan oleh polisi AS terhadap warga kulit hitam dan menganggap polisi sebagai kelompok rasis ekstrem.
Kemudian pada lagu “Take the Power Back”, mereka mengkritik keras pada sistem pendidikan AS yang buruk, Dan ada pula lagu berjudul “Maria” yang di dekasikan untuk mengenang seorang perempuan beradarah Meksiko yang tewas di bunuh oleh orang kulit putih.
Dan yang paling menggegerkan adalah lagu yang berjudul “Bulls on Parade” yang di bawakan secara Live dan di barengi dengan aksi protes pada acara “Saturday Night Live” pada tahun 1996, RATM sengaja memasang bendera AS secara terbalik sebagai wujud protes kepada calon presiden (Partai Republik), Steve Forbes yang saat itu hadir sebagai tamu di acara tersebut.
Kemudian dalam penggarapan video klip RATM yang berjudul “Sleep Now In The Fire” yang di gelar tepat di depan gedung Wall Street Center (AS), di mana RATM memprovokasi penggemarnya untuk memaksa masuk ke dalam gedung tersebut sebagai aksi protes terhadap sistem kapitalisme dunia.
Aksi RATM di Wall Street Center ini mengakibatkan aktivitas bursa efek seluruh dunia lumpuh total selama satu hari, dan grup musik ini akhirnya di tahan oleh polisi karena di anggap melakukan aksi sabotase.
Meskipun grup musik ini sudah lama fakum, RATM masih mengikuti perkembangan politik dunia, faktanya mereka masih lantang mengkritik Donald Trump saat menjabat menjadi presiden AS. (AHK)
