Satujuang, Bengkulu- Pembangunan Pengendali Banjir Sungai Bengkulu Tahap I sudah siap beroperasi, menepis isu mangkrak serta menjadi harapan baru warga Kota Bengkulu.
Mardiansyah, warga Kelurahan Tanjung Agung, mengungkapkan bahwa proyek ini adalah jawaban atas doa panjang masyarakat.
Ia mengenang musibah 2019 yang merenggut belasan nyawa sebagai luka mendalam bagi warga di wilayah langganan banjir.
“Kehadiran pengendali banjir dari pemerintah pusat ini adalah penyelamat yang kami nantikan,” ujar Mardiansyah, Minggu (16/2/26).
Menanggapi progres di lapangan, Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VII Bengkulu, Wiel Mushawiry Suryana ST MT, menegaskan infrastruktur utama secara fungsional sudah siap bekerja.
Progres fisik proyek Pengendali Banjir Sungai Bengkulu ini telah mencapai 99,2% per 3 Februari 2026.
“Memang terdapat dinamika keterlambatan oleh penyedia jasa, namun kami bergerak tegas sesuai koridor hukum,” tegas Wiel yang dikonfirmasi hari ini, Minggu.
BWS Sumatera VII memberikan perpanjangan waktu dengan sanksi denda hingga 31 Maret 2026 (90 hari kalender), mengacu pada klausul kontrak dan PMK 80 Tahun 2026 melalui mekanisme RPATA.
Wiel juga mematahkan isu miring mengenai mangkraknya pekerjaan Pengendali Banjir Sungai Bengkulu.
“Semua berjalan transparan,” imbuhnya.
Ia menjelaskan sisa pekerjaan saat ini hanya tinggal tahap finishing seperti pengecatan, perapihan sisa gundukan tanah, dan pembersihan lokasi kerja.
“Secara fungsi, seluruh pintu air dan rumah pompa sudah siap dioperasikan,” kata Wiel.
Dengan anggaran APBN sebesar Rp 85,7 Miliar pada tahap ini, BWS Sumatera VII melakukan intervensi strategis untuk Pengendali Banjir Sungai Bengkulu pada titik-titik krusial. Intervensi tersebut meliputi:
- Peningkatan Tanggul: Peninggian Jalan Irian setinggi 0,5 hingga 1,9 meter yang berfungsi ganda sebagai tanggul banjir.
- Modernisasi Pintu Air: Perbaikan pintu cross drain 1 dan 2 untuk kontrol debit air yang lebih presisi.
- Sistem Pompa: Penambahan 4 unit pompa air untuk membuang air dari kawasan kota ke sungai secara cepat.
“Skema kita jelas: air dari Sungai Bengkulu kita tahan dengan tanggul agar tidak masuk ke kota, sementara air hujan di dalam kota kita sedot keluar menggunakan pompa. Melalui skema ini, kita optimis dapat mereduksi luas genangan hingga 208 hektar,” papar Wiel.
Meski Tahap I memberikan dampak signifikan, Wiel mengingatkan bahwa penanganan banjir adalah kerja kolektif dan berkelanjutan.
Secara total, berdasarkan detail design, dibutuhkan anggaran sekitar Rp 2,8 Triliun yang mencakup 9 lingkup kegiatan dari hulu ke hilir untuk penanganan Pengendali Banjir Sungai Bengkulu secara komprehensif.
Kondisi kritis di hulu DAS Air Bengkulu akibat alih fungsi lahan menjadi tantangan besar yang memicu tingginya sedimentasi dan debit banjir.
“Penanganan banjir bukan sekadar membangun dinding beton, tapi mengelola satu kesatuan wilayah DAS,” tegas Wiel.
Ia menekankan pentingnya edukasi masyarakat bahwa ini adalah investasi jangka panjang yang melibatkan multisektor.
“Dukungan anggaran tahun 2025 adalah langkah awal yang krusial untuk meminimalisir kerugian material maupun non-material yang pernah kita alami di 2019 dan 2020,” pungkasnya. (Red)
