Satujuang- Pemimpin biro politik Hamas, Ismail Haniyeh, tewas dalam serangan drone di kediamannya di Teheran.
Haniyeh tengah berada di Iran untuk menghadiri pelantikan Presiden baru Iran, Masoud Pezeshkian, pada Selasa (30/7).
Rudal yang diduga kuat diluncurkan oleh Israel menghantam rumah salah satu veteran perang di utara Teheran, tempat Haniyeh menginap, dan menewaskan Haniyeh serta seorang pengawal.
Pembunuhan ini menimbulkan kekhawatiran tentang kelanjutan peran Haniyeh dalam operasi politik dan diplomatik Hamas, terutama terkait dengan negosiasi gencatan senjata di Jalur Gaza yang semakin rumit.

Haniyeh, yang menjabat sebagai pemimpin politik Hamas di Qatar, memiliki peran krusial dalam hubungan diplomatik dan negosiasi gencatan senjata di Gaza.
Qatar, bersama Mesir dan Amerika Serikat, berfungsi sebagai mediator dalam negosiasi ini, dan Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, meragukan keberhasilan proses tersebut setelah pembunuhan Haniyeh.
Sebagai pengganti Haniyeh, kemungkinan besar akan diambil dari tokoh-tokoh yang berbasis di luar Tepi Barat dan Jalur Gaza, mengingat pentingnya peran tersebut dalam hubungan internasional.
Mantan pemimpin biro politik Hamas, Khaled Meshal, yang telah lama tinggal di Doha, menjadi kandidat kuat untuk menggantikan Haniyeh.
Meshal, yang memimpin biro politik Hamas dari 1996 hingga 2017, dianggap memiliki dukungan luas di dalam Hamas.
Selain Meshal, dua pejabat senior lainnya, Mousa Abu Marzouk dan Khalil al-Hayya, juga dipertimbangkan.
Mousa Abu Marzouk pernah menjabat sebagai wakil ketua biro politik Hamas, sementara Khalil al-Hayya adalah anggota Dewan Legislatif Palestina dari Kota Gaza. Pemilihan pemimpin baru kemungkinan akan dilakukan oleh Dewan Syura Hamas.(Red/CNN)