Satujuang, Kota Bengkulu- PT Guriang Manggung Parahiyangan (PT GMP) angkat bicara soal pembangunan rumah bagi Korban Gempa Kota Bengkulu di Perumahan Rafflesia Regensi yang dikeluhkan lamban.
Pimpinan PT GMP, Iwan Mustofa, mengungkapkan kendala utama proyek pembangunan rumah Korban Gempa Kota Bengkulu ini terletak pada aspek teknis tenaga kerja.
Selain itu, kesesuaian anggaran dengan harga material di Bengkulu juga menjadi masalah bagi mereka.
Iwan menjelaskan, penggunaan bata ringan (hebel) memerlukan keterampilan khusus yang sulit dikerjakan oleh tenaga kerja lokal. Kondisi ini memicu keterlambatan di awal pembangunan.
“Kendalanya tenaga kerja, tukang Bengkulu belum bisa pasang hebel/bata ringan,” jelas Iwan melalui pesan WhatsApp, Kamis (29/1/26).
Ia menyebut, sempat memaksakan menggunakan tukang lokal namun akhinya berujung pada pembongkaran ulang, sehingga mereka berencana menambah tenaga kerja dari Jawa.
Selain itu, pengiriman tenaga kerja dari luar daerah juga menghadapi hambatan. Mobilitas pekerja ke Sumatera cukup menantang di tengah jadwal proyek perusahaan yang juga berjalan di Aceh.
Kemudian Iwan juga menyoroti nilai bantuan sebesar Rp60 juta per unit untuk pembangunan rumah tipe 36. Menurutnya, nilai tersebut sangat mepet karena harga material bangunan di Bengkulu yang tergolong mahal.
“Pantesan kontraktor Bengkulu pada nolak, memang berat untuk Bengkulu dengan dana 60 juta untuk tipe 36,” imbuh Iwan. Ia menambahkan, harga material yang mahal juga menjadi kendala kedua.
Iwan menyebut kontrak mereka hingga Maret 2026 untuk menuntaskan sisa 23 unit rumah yang masih dalam berbagai tahap pengerjaan, mulai dari pondasi hingga rangka.
Hingga saat ini, baru 4 unit rumah bagi Korban Gempa Kota Bengkulu yang tercatat rampung 100 persen.
Pihak vendor menyatakan komitmennya untuk segera mengejar ketertinggalan progres dengan mendatangkan tenaga dari pulau Jawa.
Agar Korban Gempa Kota Bengkulu yang terdampak gempa sejak Mei 2025 lalu bisa segera menempati hunian tetap mereka. (Red)
