Satujuang, Bengkulu- Kondisi terkini Pulau Enggano kembali membuka tabir permasalahan serius terkait pelayanan kesehatan di wilayah terpencil tersebut. Potret buram pelayanan kesehatan di pulau terluar.
Hal ini diungkapkan oleh PAABUKI (koordinator kepala suku Enggano), Milson Kaitora, kepada Satujuang, Selasa (3/6/25).
“Memang ada Puskesmas Enggano, namun hanya buka sesuai jam kerja. Jika ada pasien kritis, akan disuruh pulang jika datang di luar jam operasional sesuai SOP Puskesmas,” ungkapnya.
Sementara, satu-satunya Rumah Sakit (RS) Bergerak Enggano saat ini mati suri. Hanya berisi 1 orang dokter dan 1 orang perawat saja. Saat ini dokter yang ada pun sedang berangkat ke Bengkulu.
Kondisi ini menggambarkan seakan fasilitas kesehatan bukanlah hal yang penting untuk disediakan bagi masyarakat di pulau terluar tersebut.
“Ketika nyawa dipertaruhkan, siapa yang bertanggung jawab?, sementara Rumah Sakit Bergerak Enggano saat ini tidak aktif. Hanya ada satu petugas yakni Bidan Kumala Sari. Tanpa dokter, tanpa tenaga medis lain. Karena pegawai lainnya sudah dirumahkan,” paparnya.
Kondisi ini sebelumnya juga sempat mendapat sorotan dari Bayu Setiawan, Ketua Perkumpulan Media Online (PMO) Bengkulu Utara.
Dilansir dari Pagucinews, Bayu menyebut pada dasarnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkulu Utara sangat memperhatikan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya pelayanan kesehatan medis.
“Apalagi Kecamatan Enggano sebagai wilayah pulau terluar yang tergolong daerah terpencil memang mendapat perhatian khusus,” ungkap Bayu, Senin (2/6).
Namun lanjutnya, situasi menjadi ironis ketika pemberitaan mengenai masyarakat Enggano yang seolah-olah tidak mendapatkan pelayanan dasar, terutama layanan kesehatan, menjadi viral.
Ia mempertanyakan akar persoalan. Apakah krisis pelayanan medis ini karena dampak pendangkalan alur Pelabuhan Pulau Bai, atau sebenarnya persoalan ini sudah lama terjadi, hanya saja baru terungkap saat ini.
Ia juga mengungkapkan ada informasi dari warga setempat bahwa dokter jarang terlihat bertugas di Enggano.
“Apakah mereka dengan sengaja mengabaikan tugasnya dan hanya menerima gaji tanpa bekerja, atau memang tidak ada dokter yang ditugaskan secara tetap di sana?,” tanya Bayu.
Dari informasi yang dihimpun Bayu, disebutkan seorang dokter bernama Chandra Kuswinata, dokter lulusan PPPK yang ditugaskan ke Enggano 3 tahun lalu diketahui tidak pernah berada di pulau tersebut.
Hal ini diperkuat oleh pernyataan salah seorang warga Desa Meok, Kecamatan Enggano, yang dikonfirmasi melalui sambungan telepon WhatsApp.
“Kami tidak pernah mendengar nama Chandra Kuswinata bertugas di sini, Mas. Yang pernah ada itu Dokter Chandra Bastian, tapi sekarang sedang melanjutkan kuliah. Jadi saat ini, tidak ada dokter yang tinggal menetap di sini. Baru-baru ini ada dokter Riske yang datang merawat pasien, itu pun baru sekitar seminggu terakhir. Mungkin karena pemberitaan yang viral, baru kami diperhatikan,” tambahnya.
Pernyataan serupa juga disampaikan warga desa lain di Kecamatan Enggano. Mereka mengeluhkan tidak adanya dokter yang menetap. Hanya satu orang perawat yang saat ini menangani pelayanan rawat inap di Puskesmas setempat.
Kepala Dinas Kesehatan Bengkulu Utara saat dikonfirmasi menyatakan sudah menelpon dokter Chandra Kuswinata untuk segera menjalankan tugas di Enggano dan jangan berlama-lama berada di luar pulau.
Sementara, dr Chandra Kuswinata saat dikonfirmasi melalui WhatsApp mengakui bahwa dirinya merupakan salah satu dokter yang ditugaskan ke Enggano.
“Iya, saya juga bertugas di Enggano. Tapi belum bisa masuk, Pak. Kapal belum ada, dan tiket pesawat juga selalu penuh,” ujar Chandra.
Diluar pulau, Chandra mengaku hanya part-time dan praktik mandiri, tidak terikat jadwal. Kalau ada waktu libur dan bisa bertemu keluarga, baru ia manfaatkan untuk berada di luar pulau.
“Kalau sebelumnya, selama akses masih lancar, biasanya tiap bulan saya masuk, Pak. Kami biasanya bergantian dengan dokter lain di Puskesmas,” jawab Chandra saat ditanya berapa hari dalam setahun ia bertugas di Enggano.
Menyikapi pernyataan tersebut, Bayu Setiawan mengaku tidak bisa memastikan siapa yang berkata jujur. Namun faktanya, saat ini masyarakat Enggano mengalami krisis pelayanan medis karena tidak ada dokter yang menetap disana.
Terlepas alasan bergantian tugas, menurut Bayu seharusnya dokter yang terikat kontrak tidak boleh bergantian. Mereka digaji negara untuk mengabdi penuh waktu, bukan secara bergantian.
“Dengan dalih bergantian ini, patut diduga sebagian waktu kerja oknum dokter di Enggano justru dihabiskan tanpa memberikan pelayanan, ini bisa dikategorikan sebagai praktik gaji buta,” pungkasnya. (Red)
