Komisi IV Ultimatum RSMY Soal Kelumpuhan Layanan Cuci Darah Yang Sempat Terjadi

Perkiraan Waktu Baca: 2 menit

Satujuang, Bengkulu- Komisi IV Ultimatum RSMY terkait kelumpuhan layanan cuci darah yang sempat terjadi, menyoroti dampak kritis terhadap puluhan pasien gagal ginjal di RSUD M Yunus Bengkulu.

Puluhan pasien gagal ginjal yang sangat bergantung pada tindakan hemodialisa dikabarkan terlantar selama berhari-hari akibat habisnya stok Bahan Medis Habis Pakai (BMHP).

Kondisi kritis ini memicu reaksi keras dari DPRD Provinsi Bengkulu, yang menilai insiden tersebut sebagai kegagalan manajemen.

Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu Usin Abdisyah Putra Sembiring melayangkan ultimatum keras kepada Direktur RSMY, Kamis (16/4/26).

Usin menilai kejadian ini selain bentuk kegagalan manajemen juga merupakan pengingkaran janji perbaikan layanan yang sebelumnya disampaikan pihak rumah sakit.

“Kami minta peristiwa ini tidak terjadi lagi. Ini soal nyawa, bukan penyakit biasa! Kami akan panggil kembali manajemen RSMY untuk mempertanyakan apa masalah sebenarnya,” ujar Ketua Komisi IV Usin.

Diketahui, krisis ini berdampak pada sedikitnya 50 pasien yang terpaksa menunggu tanpa kepastian jadwal perawatan rutin.

Pada Rabu (15/4), Wakil Direktur Keuangan RSMY Eri Murianto menyebut bahwa kendala utama terletak pada proses distribusi pengiriman barang dan adanya lonjakan pasien rujukan.

Namun ternyata, hingga Kamis (16/4) siang, menurut laporan pasien masih belum terlayani karena logistik yang dipesan tertahan di perjalanan.

Pihak manajemen bahkan harus mengirim ambulans hingga ke wilayah Kabupaten Seluma untuk menjemput pasokan BMHP yang terkendala di jalan.

Kamis (16/4) sore akhirnya pasokan BMHP yang ditunggu para pasien tiba. Direktur RSMY dikabarkan turun langsung memantau ruangan setelah barang tiba untuk memastikan pelayanan segera berjalan.

Meskipun pelayanan kini telah kembali berjalan normal, desakan untuk evaluasi total manajemen logistik medis terus mengalir dari berbagai pihak.

“Cuci darah ini tindakan rutin yang tidak bisa ditunda. Jangan sampai kejadian urgent dan membahayakan ini terulang kembali,” pinta salah satu keluarga pasien. (Red)