Kisah Inspiratif Prof. Sukir Maryanto, Dari Penjual Dawet ke Guru Besar Vulkanologi

Perkiraan Waktu Baca: 2 menit

Satujuang- Prof. Sukir Maryanto, S.Si, M.Si, Ph.D., adalah contoh nyata dari prinsip pantang menyerah.

Lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, pada 21 Juni 1971, Prof. Sukir telah menghadapi banyak tantangan dalam hidupnya.

Berkat semangatnya yang gigih, ia berhasil mencapai puncak karier akademis sebagai Guru Besar di bidang Vulkanologi dan Geothermal di Universitas Brawijaya.

Sejak muda, Sukir memiliki kecintaan mendalam terhadap ilmu fisika dan minat khusus pada vulkanologi.

Ia menyadari bahwa 13 persen gunung api di dunia berada di Indonesia, menjadikannya area studi yang penting baik dari segi potensi bahaya maupun energi.

Menurut Sukir, mempelajari gunung api bukan hanya sekadar ilmu, melainkan juga tanggung jawab sosial terhadap masyarakat dan lingkungan.

Perjalanan menuju gelar profesor tidak mudah bagi Sukir. Ia menghadapi berbagai rintangan, termasuk kesulitan ekonomi yang hampir membuatnya menyerah.

Sejak kecil, Sukir membantu keluarganya berjualan makanan dan terus bekerja keras meski harus merantau ke Jambi untuk bergabung dengan orang tuanya yang sakit.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di SMA PGRI Batu, Malang, dengan menjual dawet untuk membiayai sekolahnya.

Setelah lulus SMA, Sukir merantau ke Jakarta untuk mencari beasiswa, namun gagal. Ia bekerja sebagai operator mesin selama satu tahun sebelum diterima di Jurusan Fisika Universitas Brawijaya.

Selama kuliah, Sukir tetap berdagang dan menabung, bahkan sempat cuti kuliah selama setahun untuk bertemu keluarga.

Ketekunannya membuahkan hasil, dan ia melanjutkan studi hingga jenjang doktoral dengan beasiswa.

Karier akademis Prof. Sukir semakin gemilang berkat penelitiannya di bidang vulkanologi dan geothermal, baik di dalam maupun luar negeri.

Ia terlibat dalam berbagai proyek internasional dan mengajar mitigasi bencana di seluruh Indonesia.

Kontribusinya tidak hanya dalam penelitian tetapi juga dalam memberikan beasiswa kepada ratusan mahasiswa di bidang kegunungapian.

Selain kesibukan akademisnya, Sukir tetap menjalankan usaha dagangnya di Batu Malang.

Warung Bu Sukir, yang dikelola oleh istrinya, menawarkan berbagai kuliner seperti soto dan jajanan pasar. Warung ini menjadi salah satu destinasi kuliner populer di Kota Batu.

Sukir mengajak generasi muda untuk tidak pernah menyerah dalam mengejar mimpi. “Selama masih dalam jalan yang benar, teruslah berusaha. Pasti ada jalan!” tegasnya.(Red/rls)