Satujuang, Bengkulu- Keseriusan pemerintah Provinsi (pemprov Bengkulu) dalam dunia pariwisata kembali mendapatkan sorotan tajam.
Di tahun 2024 kemarin, pihak pemprov sempat mendapatkan kritik tajam dari anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Bengkulu, Erna Sari Dewi.
Pemprov dinilai tidak peduli dengan utusan daerah hasil Pemilihan Duta Wisata Indonesia Tingkat Nasional Ke-18 di Sulawesi Tengah.
“Ketika mereka dibiarkan berjuang sendiri tanpa dukungan, ini menunjukkan lemahnya komitmen pemerintah terhadap pariwisata dan kebudayaan daerah,” ujar Erna Sari Dewi pada Senin (9/12/24) silam.
Erna menyebut bahwa ketidakpedulian pemerintah tidak hanya mengecewakan para peserta, tetapi juga mencoreng citra Bengkulu di tingkat nasional.
Tahun ini nampaknya sorotan tajam kembali mengarah kepada Pemprov, di mana tidak mampu mensuport pemenang bujang gadis untuk di kirim ke acara putra putri pariwisata nusantara untuk mewakili Bengkulu di bidang pariwisata.
Padahal, pemenang bujang gadis berada di bawah naungan dan merupakan anak binaan dari dinas pariwisata (dispar) provinsi bengkulu.
“Anak kami terpaksa keliling untuk cari bantuan sana-sini guna memenuhi kebutuhan dana, pihak dispar janji kasih tiket, didetik terakhir ternyata tak kunjung ada,” ungkap orang tua peserta kepada Satujuang.com, Kamis (14/8/25).
Kepala Dinas pariwisata, Murlin, saat dikonfirmasi media ini menyebut bahwa mereka tidak mempunyai anggaran untuk membiayai kegiatan tersebut.
Hal ini didasari karena dampak efisiensi anggaran yang diberlakukan di Bengkulu.
“Kami mau bantu sesuai kemampuan, anggaran kan harus disesuaikan dengan peruntukan. Kalau cari dari pos lain, nanti jadi persoalan hukum, kalau ada alokasinya pasti dibantu sesuai anggaran,” terang Murlin melalui pesan WhatsApp.
Sorotan tajam ini kembali mengingatkan dengan festival Tabut 2025 yang penuh ketegangan dan dinilai banyak pihak gagal pelaksanaannya.
Sebab Keluarga Kerukunan Tabut (KKT) justru tidak dilibatkan, padahal mereka adalah pemilik Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) kebudayaan Tabut.
Festival Budaya Tabut yang dijaga KKT berpuluh tahun dan masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) terpecah menjadi 2 kubu.
Puncaknya ketegangan terlihat jelas di ujung prosesi kegiatan yakni di acara Tabut Tebuang, acara tersebut diiringi dengan arak-arakan spanduk “Biaya Sendiri” oleh pihak KKT sebagai pemilik sah budaya di bulan Juli 2025 kemarin. (Red)
