Karimun – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Solar di beberapa SPBU di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau hingga hari ini, Kamis (26/5/22) masih terus terjadi.
Antrian kendaraan yang semakin mengular di pintu masuk SPBU di jalan poros misalnya, sejak Senin lalu masih terjadi dan berdampak buruk bagi pelaku usaha transportasi umum di darat.
Menyikapi hal itu, Amirullah, Ketua Organisasi Angkutan darat (ORGANDA) menilai jika Pemda Karimun Gagal dalam mengantisipasi kelangkaan BBM bersubsidi dimasyarakat.
“Kelangkaan BBM bersubsidi ini sudah lama terjadi, bahkan sebelum lebaran lalu. Hingga saat ini, stok BBM di SPBU hanya bertahan 1 atau 2 hari saja. Sebenarnya, berapa kuota BBM untuk wilayah Kabupaten Karimun dari Pertamina,” ujarnya saat di Bilangan Meral.
Ia juga menyayangkan lambatnya perhatian Bupati Karimun mengenai kelangkaan BBM tersebut. Bahkan dirinya merasa ada pembiaran.
“BBM ini kan kebutuhan masyarakat, apalagi pelaku usaha transportasi darat, khususnya truk pengangkut. Harga solar aja di pengecer saat ini sudah tak terkendali, dari harga 12 ribu rupiah hingga Rp.15 ribu per liternya. Jauh dari harga SPBU yang hanya Rp.5.600/liter. Ini sangat memberatkan jika para pemilik truk. Hal ini sudah lama terjadi, dan seakan hanya jadi bahan tontonan saja,” cetusnya.
Andi (38), supir truk pengangkut tanah di pulau Karimun besar mengaku jika dirinya terpaksa mengantri dari pagi hari hingga sore hanya untuk mendapatkan solar.
Hal inipun dirasanya sangat membebani para pengusaha transportasi darat.
“Kami sudah dari pagi hari mengantri, sampai sore kadang baru dapat. Kalau sekali isi, paling kami dapat 50 sampai 80 liter, penuh tengki lah. Itupun hanya bertahan dua hari saja. Kalau beli harga eceran, sudah mahal, barangnya pun susah dicari. Kalau dibilang rugi, ya dengan seperti ini situasinya, jelas merugi,” keluhnya.
Terpisah, Devanam Syam, Direktur Perusda Karimun mengatakan, jika terbatasnya solar subsidi saat ini dipengaruhi beberapa faktor.
Namun pihaknya mengatakan terus berupaya agar ada penambahan kuota.
“Solar saat ini ada, namun, kapasitas pompa kita yang terbatas, sehingga timbul antrian. Apalagi saat ini, penggunaan solar meningkat, itu terlihat dari truk pengangkut tanah dan sejenisnya. Kuota solar subsidi hingga saat ini masih sama, bahkan, kabupaten Karimun per bulan ini saja sudah menggunakan 60% dari jumlah kuota tahunan,” terangnya via pesan elektronikanya.
Ia juga mengatakan jika pihaknya telah berkordinasi dengan Pemda mengenai stok BBM jenis Solar Subsidi kedepannya.
“Kita sudah koordinasikan melalui Kadisperindag serta Instansi lain. Penambahan kuota kan berdasarkan pengajuan daerah, semoga segera terealisasi penambahan kuota kita,” paparnya. (Esp)
