Satujuang- Harga Bitcoin dan beberapa kripto teratas mengalami penurunan, Senin (14/10/24).
Menurut data Coinmarketcap, Bitcoin (BTC) turun 0,66 persen dalam 24 jam dan 0,15 persen dalam sepekan, saat ini diperdagangkan pada USD 62.752 per koin atau sekitar Rp 976,9 juta.
Ethereum (ETH) juga melemah 0,49 persen dalam sehari, meski naik 1,12 persen dalam sepekan, dengan harga Rp 38,3 juta per koin.
Binance Coin (BNB) melemah 0,84 persen dalam 24 jam terakhir tetapi masih mencatat kenaikan tipis 0,10 persen sepekan, diperdagangkan pada Rp 8,89 juta per koin.
Cardano (ADA) mengalami penurunan lebih tajam, turun 1,57 persen dalam 24 jam terakhir dan 2,79 persen dalam sepekan, dengan harga Rp 5.411 per koin.
Sebaliknya, Solana (SOL) naik 0,58 persen dalam sehari dan 0,668 persen sepekan, dengan harga Rp 2,29 juta per koin.
Beberapa aset kripto lainnya, seperti XRP dan Dogecoin (DOGE), juga berada di zona merah. XRP turun 1,47 persen dalam sehari dan 0,42 persen dalam sepekan, dengan harga Rp 8.273 per koin.
Sementara DOGE turun 0,08 persen dalam sehari dan 0,19 persen dalam sepekan, diperdagangkan di Rp 1.732 per token.
Stablecoin seperti Tether (USDT) dan USD Coin (USDC) tetap stabil pada level USD 1,00, mencatat kenaikan kecil 0,01 persen.
Kapitalisasi pasar kripto keseluruhan turun 0,64 persen, menjadi USD 2,19 triliun atau setara Rp 34,09 triliun.
Sementara itu, Otoritas Pengatur Aset Virtual Dubai (VARA) menjatuhkan sanksi kepada tujuh perusahaan kripto yang melanggar peraturan perizinan dan pemasaran.
Perusahaan-perusahaan ini didenda antara 50.000 hingga 100.000 dirham dan diperintahkan untuk segera menghentikan operasi.
Meski menghadapi tantangan, Dubai terus memimpin dalam industri kripto global, dengan bursa besar seperti Binance dan Cryptocom telah menerima persetujuan regulasi dari VARA.
Di sisi lain, Bank Sentral Singapura memprediksi mata uang kripto swasta akan memudar dalam jangka panjang.
Menurut Direktur Pelaksana, Ravi Menon, kripto swasta tidak memiliki nilai inheren dan gagal sebagai bentuk uang.
Ia menyarankan masa depan moneter akan didominasi oleh mata uang digital bank sentral (CBDC), stablecoin yang diatur ketat, serta kewajiban bank komersial yang ditokenisasi.(Red/liputan6)
