Festival Budaya Tabot Bengkulu

Tabot sebuah tradisi dari kota Bengkulu [bekabar]

Satujuang.com, Bengkulu – Bengkulu salah satu provinsi di Indonesia yang mempunyai ragam cerita dan kisah, salah satunya kegiatan perayaan Tabot, dilaksanakan setiap tanggal 1 sampai dengan 10 muharram dalam kalender Islam.

Tradisi tabot, merupakan sebuah perwujudan dalam bentuk ritual sebagai simbolis untuk menceritakan tentang wafatnya Imam Husen, dikisakan Imam Husen wafat saat melakukan perang untuk melawan Yazit bin Umayah di Padang karbela.

Ritual tabot ini, menurut sejarah dibawa dan dikenalkan oleh Syeh Burhanudin, yang pada awalnya kegiatan ini dimaksudkan sebagai salah satu bentuk syiar agama Islam pada abad ke 13 dan 14, untuk menyebarkan agama Islam di Bengkulu, dengan menceritakan kisah tentang perang Karbela pada tahun 763 M.

Tabot telah dirayakan secara rutin di Bengkulu sejak abad ke-14. Tahun 1990, ritual tabot ditingkatkan statusnya menjadi salah satu festival wisata di Provinsi Bengkulu dengan nama Festival Tabot. Perayaan yang semula hanya berisikan upacara-upacara ritual, diperkaya dengan berbagai atraksi tambahan, seperti lomba DOL, Lomba Tari, Lomba Ikan-ikan, Lomba Telong-telong, Lomba Barong Landong, mirip ondel-ondel betawi, dan lainnya.

Rangkaian acara Festival Tabot yaitu :

  1. Upacara pengambilan tanah

Upacara pengambilan tanah dilakukan pada malam hari sebelum tanggal 1 Muharam pada pukul 20.00 WIB atau setelah sholat isya, upacara pengambilan tanah dilakukan didua tempat yaitu di Pantai Nala dan Tapak Paderi, upacara/budaya ini adalah peringatan atau mengenang kembali manusia pada awalnya diciptakan dari tanah nantinya akan kembali menjadi tanah. Upacara/budaya ini lengkap dengan sesajen gula merah, bubur merah, sirih rokok tujuh batang, tujuh subang, air kopi pahit, air serobat atau air jahe, air susu sapi murni, air cendana dan air selasi. Setelah itu pengambilan tanah dua kepal, sekepal diletakkan di gerga diibaratkan benteng dan sekepal lainnya dibawa pulang untuk diletakkan diatas tabot yang akan dibuat.

  1.  Upacara duduk penja
Baca Juga :  Polusi Udara, Knalpot Bising Bisa di Tilang

Upacara skral duduk penja dilakukan selama dua hari yaitu pada tanggal 4 dan 5 Muharam pada pukul 16.00 WIB. Penja ialah pending jari-jari dengan bentuk jari-jari tangan terbuat dari tembaga serta disimpan diatas rumah sekurang-kurangnya selama satu tahun. Didahului dengan berdoa penja diturunkan untuk dicuci dilengkapi sesajen berupa emping, air serobat atau air jahe, susu murni, air kopi pahit, nasi kebuli, pisang emas, dan tebu. Setelah di cuci keluarga pembuat tabot langsung mengantarkan penja yang dibungkus kegerganya dengan diiringi bunyi DOL dan tasa untuk disimpan kembali selama upacara perayaan tabot.

  1.  Upacara menjara

Upacara menjara dilaksanakan pada malam hari tanggal 5 dan 6 Muharam mulai pukul 19.30 WIB, menjara berarti melakukan perjalanan panjang dimalam hari. Upacara ini dimaksud untuk melakukan silahturahmi atau konsolidasi, pada malam pertama tanggal 5 Muharam kelompok bangsal mengunjungi kelompok Imam dan pada malam kedua tanggal 6 Muharam kelompok Imam mengunjungi kelompok bangsal dengan perlengkapan DOL dan tasa. Perlengkapan musik DOL dan tasa dalam perjalanannya akan melantunkan lagu semi sauri disaat berjalan dan lagu-lagu sauri, melalu dan tamatam pada tempat-tempat berhenti

  1.  Malam arak jari-jari dan malam arak seroban
Baca Juga :  Dewan Provinsi : Selamat Atas Dilantiknya Rohidin Mersyah dan Rosjonsyah

Upacara arak jari-jari dilakukan pada tangal 7 Muharam pukul 19.30 WIB, malam arak jari-jari dilaksanakan dengan menempatkan penja yang sudah didudukan diatas tabot joki, kemudian diarak untuk berkumpul ditanah lapang. Sedangkan persiapan arak seroban diselenggarakan pada tanggal 8 Muharam pukul 16.00WIB atau setelah sholat asar yakni mempersiapkan seroban untuk diarak bersama-sama penja atau jari-jari pada malam harinya, Upacara ini diibaratkan sebagai pemberitahuan kepada masyarakat bahwa jari-jari tangan dan sorban Amir Husen telah ditemukan di padang karbala .

  1.  Hari Gam

Hari Gam ini dimulai pada pukul 06.00 WIB tanggal 9 Muharam, hari Gam berarti tidak boleh ada bunyi-bunyian sama sekali sampai tabot naik pangkek, dalam pelaksanaan pembuatan tabot ini prosesnya yaitu memakan waktu sampai satu bulan selepas dari hari raya kurban langsung pelaksanaan pembuatan tiang empat awal dari kegiatan itu. Dalam kegiatan ini setiap kelompok tabot dirumahnya masing-masing itu melaksanakan pembuatan tabot, kemudian tabot ini tidak dibuat dalam bentuk tingkatnya itu ganjil tidak genap yaitu 1, 3, 7, 9, dengan puncak satu itu 5, 9, 13, dan 17 karena tidak ada puncak tabot itu yang genap dan semua puncak tabot yang ada itu ganjil.

  1.  Tabot naik pangkek
Baca Juga :  Kejagung Perlu Bentuk Pengaduan Yang Mudah Untuk Masyarakat Awam dalam Pengaduan Oknum Jaksa Nakal

Pada pukul 14.00 WIB sesudah sholat zuhur tanggal 9 Muharam dilakukan acara tabot naik pangkek, tabot naik pangkek adalah kegiatan menyambungkan bangunan puncak tabot dengan bagian bangunan tabot gedang ditempat pembuatannya.

  1.  Malam arak Gedang

Pada tanggal 9 Muharam pukul 16.00 WIB tabot dibawa ke gerga untuk soja dan penja dinaikkan diatas tabot sebelum diarak menuju ke tanah lapang untuk bersanding, pada pukul 19.00 WIB malam harinya tabot sudah bersanding ditanah lapang, prosesi ini disebut malam arak Gedang.

  1.  Arak-arakan tabot tebuang

Pagi hari pukul 080. WIB tanggal 10 Muharam tabot kembali diarak untuk bersanding ditanah lapang, setelah itu tabot diarak menuju karabela sebutan masyarakat bengkulu untuk karbala, sebelum diarak seluruh tabot menyembah terlebih dahulu kepada tabot imam dan tabot bangsal.

  1. Juru kunci menyambut arak-arakan di pintu gerbang karabela, disitu dilakukan upacara penyerahan tabot kepada leluruh dimakam syah bedan Abdullah ayah handa Syeh Burhanudin. (Red)