Satujuang, Karimun- Direktur Biomassa PT PLN Energy Primer Indonesia (EPI), Hokkop Situngkir, menargetkan peningkatan cofiring biomassa PLTU Tanjungbalai Karimun hingga 40.000 ton/tahun.
Hal ini disampaikan Hokkop Situngkir saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Karimun selama dua hari, pada 9 dan 10 Februari 2026.
Pada hari pertama, Hokkop melihat langsung lokasi produksi listrik PLTU Tanjungbalai Karimun (2 x 7 MW) mulai dari jeti unloading bahan bakar hingga masuknya bahan bakar ke mesin pembangkit listrik.
“PLTU jenis stocker ini sudah mumpuni untuk cofiring biomassa,” ujar Hokkop, Rabu (11/2/26).
Ia menambahkan, sarana dan prasarana pendukung harus ditingkatkan agar proses cofiring di PLTU bisa lebih baik.
Hokkop menyatakan, energi hijau melalui biomassa secara bertahap akan lebih berperan dalam menjamin pasokan listrik untuk publik.
“Dengan semakin tumbuhnya pemakaian bahan bakar biomassa akan berpengaruh positif terhadap circular pertumbuhan ekonomi kerakyatan di lingkungan wilayah PLTU,” tuturnya.
Menurut Hokkop, kondisi mesin PLTU Tanjungbalai Karimun yang mumpuni sangat memungkinkan pelaksanaan cofiring dengan bahan bakar biomassa.
Target tahun 2026 sebesar 6.000 ton/tahun (8%) bisa ditingkatkan hingga kurang lebih 40.000 ton/tahun (50%) pada tahun 2027 dan seterusnya.
PLTU Tanjungbalai Karimun sendiri telah melakukan uji coba cofiring dengan bahan bakar wood chip hingga 100% pada tahun 2024.
“Pemenuhan pasokan biomassa di PLTU Tanjungbalai Karimun saat ini telah dilaksanakan oleh PT BEST YPK PLN,” terang Hokkop.
Anak perusahaan YPK PLN atau grup afiliasi PLN itu memperoleh hasil produksi dari beberapa sumber di berbagai lokasi Kepulauan Riau.
Selain itu, dalam kunjungan kerja Direktorat Bioenergi PLN EPI ini, Hokkop juga menyempatkan berkunjung ke Pusat Listrik Bahan Bakar Synthetic Gas hybrid Solar Cell milik Karimun Power Plant (KPP).
Pembangkit KPP melayani kelistrikan di kawasan khusus industri di Tanjung Balai Karimun.
Synthetic gas pada pembangkit KPP ini diproduksi dari bahan baku kayu wood chip melalui proses reaktor gasifier.
Proses tersebut menghasilkan gas Synthetic yang ramah lingkungan dan memenuhi syarat sebagai bahan bakar mesin pembangkit listrik KPP dengan kapasitas terpasang 2 x 500 KW.
Sementara itu, pada hari kedua, Selasa (10/2) pagi, Hokkop melanjutkan kunjungan kerjanya di Pulau Kundur.
Ia mengunjungi Pembangkit Listrik Synthetic Gas kapasitas terpasang (3 x 500 KW) milik PT PGI yang sudah beroperasi sejak tahun 2017 dengan daya mampu rata-rata 1.000 KW.
Menurutnya beroperasinya Pembangkit Listrik Synthetic Gas di Pulau Kundur menjadi contoh nyata terlaksananya program kemandirian energi.
Program ini mencakup penyediaan hutan tanaman energi masyarakat setempat di sisi hulu hingga pengolahan hasil wood chip sebagai bahan baku pokok proses gasifier produksi Synthetic gas di sisi hilir.
Hal tersebut sekaligus menjadi bagian program Dediselisasi di PLN secara bertahap.
“Program Pembangkit Listrik Synthetic Gas ini merupakan salah satu pilihan yang tepat diimplementasikan di daerah-daerah 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal) di wilayah Indonesia,” sebutnya.
Program ini sekaligus menjadi bagian percepatan program Dediselisasi Nasional.
Hokkop menilai, program ini juga akan menumbuhkan circular ekonomi masyarakat di daerah-daerah setempat.
Masyarakat setempat menjadi bagian penting yang akan ikut terlibat dalam dukungan penyiapan hutan tanaman energi yang hasil produksi kayunya bisa terjaga berkesinambungan jangka panjang.
“Ini juga sekaligus untuk terwujudnya bauran energi yang ramah lingkungan,” pungkas Hokkop.
Ia menjelaskan, limbah dari produksi Synthetic Gas berupa karbon aktif dapat dipergunakan untuk memperbaiki hara kesuburan tanah setempat. (Az)
