Satujuang, Bengkulu- Desakan selamatkan Pulau Enggano, pulau terluar yang telah terisolir setidaknya selama 3 bulan ini kian hari kian deras disuarakan, bahkan datang hingga dari Malaysia.
Dukungan solidaritas untuk masyarakat adat Enggano datang dari sekjen Asia Young Indigenous Platform Network (AIYPN), Funa, dan teman-teman belia asal Malaysia.
“Saya berdiri dalam solidaritas dengan saudara-saudari kita dari Enggano,” ujar Funa dalam video pernyataannya yang didapatkan Satujuang, Rabu (4/6/25).
Funa meminta langsung kepada pemerintah Indonesia dalam hal ini khususnya presiden Indonesia, Prabowo Subianto, untuk mengambil tindakan atas nasib yang dialami masyarakat di pulau Enggano.
“Kami minta untuk mengambil tindakan dan mengindahkan seruan saudara-saudari kami terutama di saat-saat yang dibutuhkan ini,” imbuhnya.
Senada disampaikan oleh teman-teman belia asal Sabah Malaysia yang turut mendesak Presiden Prabowo untuk tidak mengabaikan keberadaan masyarakat di pulau Enggano.
“Kami Belia orang asal dari Sabah Malaysia. Kami mendesak Presiden Indonesia untuk tidak mengabaikan masyarakat adat Enggano. Enggano bukan pulau kosong,” tegas mereka.
Seperti diketahui, saat ini masyarakat pulau Enggano sedang dihadapkan dengan kondisi tranportasi laut yang terhambat karena pendangkalan alur di Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu.
Hanya ada 1 transportasi pasti yang masih bisa dimanfaatkan secara maksimal yakni pesawat perintis milik Susi Air.
Kondisi menjadi panik ketika 3 warga pulau Enggano dalam kondisi sakit parah harus segera dilarikan ke kota Bengkulu guna mendapatkan fasilitas kesehatan yang lengkap.
Sebab di Enggano fasilitas kesehatan belum memadai untuk mengatasi, hanya ada 1 Puskesmas dengan fasilitas seadanya. Ada juga Rumah Sakit Bergerak, namun sayangnya minim tenaga kesehatan maupun fasilitas penunjang.
Sebelumnya Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, sempat berujar akan memberikan bantuan fasilitas tiket pesawat untuk warga sakit tersebut. Namun sayangnya bantuan itu tak kunjung ada.
“Kami di Enggano ini sekarang di anak tirikan oleh pemerintah, ya mungkin di medsos mereka menyatakan sudah melakukan ini dan itu, kenyataan semua itu nol,” ungkap PAABUKI (koordinator kepala suku Enggano), Milson Kaitora dalam salah satu wawancara.
Dalam kondisi saat ini, Milson menyebut kemungkinan untuk bertahan adalah sekitar 2 minggu lagi. Dalam video tersebut ia juga menjelaskan soal minimnya tenaga kesehatan yang tersedia di pulau Enggano saat ini.
Milson juga menyentil soal informasi Gubernur Helmi Hasan mau menyiapkan pesawat untuk menjemput 2 dari 3 warga yang sakit tersebut.
“Itu bohong itu, buktinya hanya ada 1 yang berangkat dan itu sesuai jadwal penerbangan. Maunya ada penambahan penerbangan jika memang benar ada bantuan. Jadi pasien yang berhasil berangkat itu kebetulan itu keluarga saya. Saya tau persis, dia berangkat itu atas usaha keluarga untuk merunding tiket. Jadi bukan karena dijemput sama pemerintah seperti berita yang berkembang. Itu berita salah itu, bohong berita itu,” tegasnya.
Saat ini harapan untuk membawa 1 pasien kritis yang belum berhasil diberangkatkan tersebut tergantung pada dapat tidaknya tiket penerbangan Susi Air yang dijadwalkan dihari Jumat besok.
Informasi terhimpun, teriakan untuk segera mengatasi masalah yang menimpa 4000an masyarakat adat pulau Enggano ini memunculkan aksi unjuk rasa.
Sejumlah massa dikabarkan akan menggelar aksi unjuk rasa pada Kamis (5/6) besok.
Dari selebaran digital yang didapatkan media ini, seruan aksi solidaritas masyarakat Enggano akan digelar di Simpang 5 kota Bengkulu pada pukul 13.00 WIB. (Red)
